Identifikasi Makam Ki Lango di Desa Cikawung Kecamatan Terisi Indramayu




"Ki Lango, (nama aslinya tidak diketahui) yang makamnya di Desa Cikawung Kecamatan Terisi Kabupaten Indramayu, adalah seorang tokoh yang disegani di daerah tersebut,  ketika jaman Pangeran Panembahan terlunta-lunta karena peristiwa penyerangan sesion kedua kalinya setelah penyerangan pertama gagal," demikian Kata Asep Sulaiman Fadil Adiwanta yang aktif menjadi Panata Keraton Sumedang, sewaktu menyambangi dan berjiarah ke makamnya Ki Lango bersama masyarakat adat Desa Cibuluh Kecamatan Ujung Jaya. (23/12/2019)

Potongan Sejarah Pada Masa Pangeran Panembahan  :
Pangeran Panembahan diangkat menjadi Bupati Sumedang (1656-1705) dengan gelar Ranggagempol III, menggantikan ayahnya Bagus Weruh, namun lebih dikenal Pangeran Panembahan. Sejarah Sumedang menerangkan bahwa Pangeran Panembahan adalah bupati pemberani dan keras pendirian dalam membangun Sumedang sebagai kabupaten yang mandiri, mungkin telah membaca kelemahan Mataram. Pergantian kepemimpinan di Mataram mempunyai pengaruh terhadap terhadap sistem politik dan pemerintahan di pulau Jawa. Sultan Amangkurat sebagai pengganti Sultan Agung (ayahnya) berhati lunak dalam menyikapi pengaruh kompeni, sehingga dengan mudah menguasai kota-kota penting di pulau Jawa.

Diceritakan Banten menyerang untuk ke 2 kalinya, bukan karena suruhan Sultan Agung Tirtayasa, tapi dengan suruhan saudara Pangeran Kidul. Oleh sebab itu pasukan Banten yang dikirimkan untuk kedua kalinya tersebut disebutnya "Balad Kidul" oleh kompeni. Ini adalah orang Bali, Makasar,  Bugis yang hanya bekerja, untuk kepalanya Cilikwidara, orang Bali dibantu ku Cakrayuda yang disebut juga Gagak Pranala.

Pasukan Bali itu pernah mengalami di Karawang, datangnya dari laut dan di darat. Tentara kompeni yang menjaga di pesisir cuma sedikit, laut dibiarkannya, jadi tidak kuat menghadapi musuh, habis dari Karawang terus pasukan Banten mengepung Ciasem, sehingga para demang di bawah patalukan Pangeran Panembahan berkiblat ke Banten. Cuma sebentar Ciasem sudah takluk,  Bupatinya R. Imbawangsa putranya Santowan Wira Kusumah yang lantara tidak mauk takluk, tetap mau belapati ke Sumedang saudaranya Pangeran Geusan Ulun, jadi masih saudaranya Pangeran Panembahan, sehingga Sultan Ageng Tirtayasa menyuruh membunuhnya, dan kepalanya R. Imbawangsa dikirimkan ke Banten (Surasowan), dipakai iring-iringan Sultan Haji putra Sultan Agung ke Mesjid. Sesudah itu pasukan Banten mengepung Pamanukan. Pasukan Pamanukan bisa bertahan namun pada akhirnya menyerah juga ke Pasukan musuh. 

Pada bulan Ramadhan tentara Banten memasuki wilayah Sumedang, yang saat itu mendekati lebaran dan Ibukotanya di Tegalkalong. Hari lebaran pagi-pagi sekali orang kota Sumedang mau melaksnakan Shalat sunat di Mesjid Tegalkalong, mereka pasrah kepada Allah SWT, tapi takdir tidak bisa dipungkir, kadar tidak bisa dihalangi, hari itu juga Sumedang didatangi oleh  Pasukan Banten dibantu oleh Tumenggung Wiraangun-angun yang bermenantu kepada Cakrayuda Wiraangun-angun tahu jalan yang yang bisa menuju Kota Sumedang, yang mana musuh bisa cepat masuk ke kota Sumedang. Mereka mengepung orang-orang yang melaksanakan shalat di Mesjid Tegalkalong, meskipun tidak membawa pekarang perang yang dikepung musuh melawan sebisa-bisa, tapi tetap tewas, itu terjadi tanggal 15 Nompember 1678.  Peristiwa tersebut menewaskan belasan keluarga Pangeran Panembahan diantaranya Tmg. Jagasatru Aria Santapura, Sacapati, R. Dipa dan Anom Wirasuta (Mas Alom). 

Sedangkan Panembahan lolos dari jarum maut, Kota Sumedang dibakar oleh musuh, cuma kabupaten dan Paseban yang tidak dibakarnya, yang akhirnya Sumedang direbut musuh oleh karena dalam keadaan tidak siap berperang, yang terjadi pada hari Jumat, jadi oleh karenanya Sumedang Cadu merayakan Idul Fitri, Hari Jumat tersebut.

Sumedang dikuasai oleh oleh Cilikwidara, dari Kompeni tidak mendapat bantuan apapun. Musuh memerintah dengan sewenang-wenang, Orang Sumedang banyak yang dihukum Mati, meskipun kesalahannya tidak seberapa. Kaum perempuan disuruh masuk ke hutan oleh Pangeran Panembahan, banyak yang meninggal daripada dihina oleh musuh. Ratusan orang ditusuk oleh keris, yang lainnya ditawan serta dikirimkan ke Banten. 

Kemudian Sultan Haji mengangkat Cilikwidara menjadi wakil Sultan Banten di Sumedang dijulukan Ngabei Sacaparana dan mengangkat Wiraangun-angun menjadi Patih, dijulukan, Aria Sacadiraja.

Pada awal pemerintahan Cilikwidara menaikkan pajak bumi sangat tinggi, rakyat Sumedang dililit krisis ekonomi, kemiskinan timbul dimana-mana. Bukan kepada orang Sumedang Cilikwidara sangat berangasan, tetapi kepada juga kepada koleganya, oleh sebab itu banyak punggawa yang memunggunginya, malahan terhadap Cakrayuda juga memusuhinya, dan setelah itu kabur bersama mertuanya Tmg. Wiraangun-angun ke Karawang, jadi lama kelamaan Cilikwidara banyak musuhnya lagi. Pusatnya yang jadi musuh Cilikwidara di Galunggung Tasikmalaya (Sukapura). Pangeran Panembahan diakui Demang Galunggung R. Sacakusuma dan Tmg. Parakanmuncang. Pangeran Panembahan tidak membiarkan tindakan Cilikwidara, kemudian memohon bantuan kepada Bupati Sukapura dan Bupati Cikundul. Permohonan tersebut dipenuhi dengan mengirim pasukan dalam jumlah besar. Pasukan gabungan menyerbu pendopo kabupaten, Pangeran Panembahan dijadikan kepalanya. Kemudian Pangeran Panembahan menyatroni ke Sumedang, meskipun kekurangan pekarang perang dan tak biasa berperang, tidak urung bisa mengalahkan pasukan Cilikwidara, serta Sumedang dapat dikuasai kembali. 

Orang Bali kabur dari Sumedang, ini terjadi kira-kira bulan Mei tahun 1679, namun tidak lama menangnya, oleh sebab setelah kemenangan 14 hari, Cilikwidara datang lagi ke Sumedang dan Sumedang dikuasainya kembali. Pangeran Panembahan lolos dari kepungan dan ke arah Selatan Kota Sumedang melintasi pegunungan, yang kemudian sampai ke Indramayu, yang akhirnya ditawan atau tinggal dulu dengan kompeni.

Kepala-kepala Pemerintahan di Priangan miris oleh Banten, oleh sebab itu mereka menyerah kepada Sultan Agung Tirtayasa, misalna ; Bandung, Turugagung, Limbangan, Timbanganten, Sudalarang, Cijapati, Darmaraja, Pawenang, Sukawayana, Cipeundeuh, Rajapolah, Panembong, Suci, Sukapura, Parakanmuncang, Maribaya, Indihiang, Panarajang, Parung, Karang, Cihaur, Pageding di Sukapura, yang boleh jadi se Priangan menjadi takluk ke Banten.

Demikian keadaannya di Sumedang dan di Priangan boleh jadi taluk  kepada Banten 
dalam awal tahun 1679 tidak ada perubahan sampai akhir tahun 1680. Pangeran Panembahan dibawa yang dibawa ke Indramayu tidak bisa melakukan apa-apa, melihat apa yang dilakukan oleh Cilikwidara berbuat sesuka hati di Sumedang, begitu juga Kompeni tidak ada gerakannya di Pasundaan, sebab tentaranya dipakai untuk memerangi Pasukan Trunojojoyo di Pasuruan Jawa Timur. Begitu juga dengan ikut campur ke Mataram dan ke Priangan, Banten juga bermusuhan, selama itu Betawi mesti siap siaga takut Banten menyerang sewaktu lenggah. Panjang sekali kalau dikisahkan Tentara Kompeni diarahkan ke Jawa Timur.

Cepatnya alur cerita di Jawa Timur yang belum beres, kita kembali ke masalah di Betawi dan Banten yang berbeda paham, sebab Belanda musuhnya Banten, daripada masalah politik dan perkara perdagangan, sebab kontrak dengan Sultan Amangkurat 2 Mataram, Kompeni menjadi lebih maju dalam dagangnya di Hindia. Banten waktu itu negara dagang yang besar di Priangan, oleh sebab itu Banten berusaha untuk mengalahkan Kompeni. Namun karena Kesultanan Banten sudah dalam keadaan tidak beres, Sultan Ageng Tirtayasa berbeda pendapat dengan putranya Sultan Haji. Kalau Sultan Ageng Tirtayasa mesti berperang dengan Kompeni, namun Sultan Haji lebih dengan cara berdamai dengan Kompeni, yang ikut berpihak pada Sultan Ageng Tirtayasa pada waktu itu adalah Punggawa Aria Monjaya, Pangeran Kidul, Pangeran Poerabaya, Pangeran Lor, Ratu Bagusjaya, Syekh Yusuf, Kiyai Gede. Golongan Sultan Haji berpihak dengan Belanda, nah begitulah karena kesultanan tidak beres, seperti terjadi di kesultanan Mataram. Pada masa Sultan Agung memusuhi Belanda, tetapi sebaliknya Sultan Amangkurat kooperatif dengan Belanda.

Banten masih bisa merugikan Kompeni di Betawi, serta masih bisa memerintah di Priangan. Semasa Trunojoyo unggul dalam peperangan, namun akhirnya Trunojoya terdesak, sehingga penyerangan Sultan Ageng Tirtayasa ke Betawi tidak jadi, mungkin juga pengaruh Sultan Haji yang mau menggantikan orang tuanya menguasai kesultanan Banten, yang akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa menjadi begawan di Tirtayasa. Yang paling dulu dikerjakan oleh Sultan Haji adalah berkompromi (koopertif) dengan belanda di Betawi, terutama merubah surat perjanjian dagang kerjasama, yang dibuat tahun 1959, oleh sebab itu Banten dan Kompeni tidak bermusuhan lagi, dan juga Banten tidak akan ikut campur lagi dengan Cirebon dan Sumedang. Oleh sebab itu Cilikwidara dipanggil ke Banten oleh Sultan Haji pada awal bulan Oktober 1680, Cilikwidara mesti meninggalkan Sumedang. Barang-barang yang didapat dari merampas dirampas lagi serta kalau ingin selamat mesti terus ke Banten, oleh sebab Sultan Haji tidak menanggung keselamatan jiwanya Cilikwidara dan bala tentaranya. 

Dua tahun lamanya Sumedang diduduki oleh Cilikwidara dan Pasukannya yang pada waktu itu Ibukotanya di Tegalkalong, Pangeran Panembahan yang ditempatkan oleh Belanda di Cirebon, meminta ijin kepada Kompeni untuk kembali ke Sumedang dan diantarkan oleh Kapten Jochens Michielz serta kembali memerintah di Sumedang, ini terjadi dalam awal 1681, Ibukota yang dirusak oleh musuh terus diperbaiki kembali oleh Pangeran Panembahan, dan Ibukota Kabupaten dipindahkan ke Kabupatian sekarang.

Dampak peperangan banyak beban yang dihadapi oleh Panembahan, dengan sendirinya harus menata kembali tatanan sosial dan ekonomi yang hancur. Oleh karena itu Pangeran Panembahan memperluas lahan-lahan pertanian dan perkebunan. Setiap pengabdi dalem dan para pamuk diberikan tanah bengkok tujuannya untuk mensejahterakan keluarga para abdi dalem dan keluarga prajurit, secara umum untuk memperbaiki taraf kehidupan rakyat. 

Dalam segi pemerintahan yang dikembangkan oleh Pangeran Panembahan berdasarkan kepada falsafah kerakyatan yaitu mempersatukan seluruh komponen masyarakat. Walaupun harus kehilangan kekuasaan yang dilucuti oleh para pemimpin di pulau Jawa, dengan terpaksa merelakan kehilangan sebagian wilayah.

--------------
Ditulis oleh : Dedi E Kusmayadi Somaatmadja, Panata KSL Kamatren Budaya.

Baca Juga :

Tidak ada komentar