Situs Makam Penyebar Islam di Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis

Kawali, sebuah tempat dengan nama yang melegenda. Kawali pernah tercatat sebagai Pusat pemerintahan kerajaan Galuh sejak tahun 1333 M sampai dengan 1482 M. Nama Kawali disebut pada dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Niskala Wastukancana yang tersimpan di situs Astana Gede Kawali. Prasasti tersebut menyebut dan “nu ngeusi bhagya Kawali” (yang mengisi Kawali dengan kebahagiaan).

Dalam sejarahnya, Kawali telah melahirkan raja-raja besar yang memerintah tatar Sunda-Galuh. Mereka diantaranya, Prabu Lingga Buana (Prabu Wangi), Niskala Wastu Kencana (Prabu Wangisutah) dan Prabu Jaya Dewata (Sribaduga Maharaja alias Prabu Siliwangi).

Pada tahun 1482 masehi, Jaya Dewata dinobatkan sebagai Raja Galuh di karaton Surawisesa Kawali sebagai purasaba (pusat kota) kerajaan Galuh. Pada tahun yang sama, Jayadewata di Purasaba Pakuan dinobatkan sebagai Raja Sunda menggantikan pamannya sekaligus mertua, yaitu Prabu Susuk Tunggal.

Setelah menyandang jabatan Raja dari dua kerajaan besar Galuh dan Sunda, Prabu Jaya Dewata (Sribaduga Maharaja alias Prabu Siliwangi) memilih menetap di Pakuan. Dengan begitu Pakuan menjadi Purasaba Sunda-Galuh dan kemudian berganti nama menjadi Pakuan Pajajaran.

Setelah Prabu Jaya Dewata alias Prabu Siliwangi memindahkan pusat kekuasaanya ke Pakuan, Kerajaan Galuh di Kawali hanya menjadi sebuah Kandaga Lante (kerajaan bawahan).

Kawali kemudian diperintah oleh Sang Ningratwangi pada tahun 1482–1507 M. Setelah Ningratwangi wafat, kemudian diteruskan putranya Prabu Jayaningrat pada tahun 1507–1529 M.


Situs Makam Penyebar Islam di Kecamata Kawali
a. Makam Dalem Dungkut Di Desa Winduraja Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis
Winduraja, sebuah wilayah di Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis yang menyimpan kekayaan bersejarah. Pada ribuan tahun lalu, konon di Winduraja terdapat kerajaan sunda kuno yang menjadi cikal bakal berdirinya sejumlah kerajaan ditatar sunda, bahkan di Nusantara.

Dituliskan bahwa Winduraja adalah tempat pemusaran yang dipilih oleh ketiga Raja Sunda, Yakni Rakeyan Gendang dengan gelar Brajawisesa (989–1012 M), Raja Darmaraja (1042-1065 M), serta Raja Darmakusuma (1157–1175 M). Hal itu terbukti dari banyaknya penemuan-penemuan benda prasejarah yang menandakan adanya aktivitas kerajaan sunda buhun.  Serangkaian sejarah kerajaan sunda di Winduraja tersurat dalam naskah cerita Parahyangan 1579 Masehi. Desa Winduraja merupakan Desa Induk (belum mengalami Pemekaran Desa) dan menurut berita, Pusat Pemerintahan Desa mulanya di Kampung Tarikolot (sekarang Dusun Sukamulya) kemudian berpindah tempat ke Dusun Winduraja (sekarang Dusun Weningsari) tepatnya di Jalan Panjalu No.13.

Ketika tahun 1529 M Kerajaan Galuh (Kawali) tunduk pada kesultanan Cirebon. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) menempatkan Dalem Dungkut (1529 – 1575 M), anak Prabu Langlang Buana (Raja Kuningan), menggantikan Prabu Jayaningrat (penguasa terakhir Kerajaan Galuh Kawali) untuk memerintah dan menyebarkan Agama Islam di Kawali. Pada masa inilah menjadi permulaan masuknya Islam di daerah Galuh-Kawali.

Di dusun Kiarakoneng, Desa Winduraja, di tepi Sungai Purba, Cimuntur terdapat makam keramat. Makam tersebut di kelilingi pepohonan besar, beberapa diantaranya adalah pohon kiara berdiameter 1,5 sampai 2 meter yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun

Penduduk setempat menjelaskan, makam itu adalah Makam Dalem Dungkut yang memiliki nama lain Ranggayunan. Sampai sekarang makam itu masih dianggap keramat oleh warga sekitar.

Menurut informasi yang dirangkum dari beberapa referensi, ternyata Dalam Dungkut adalah putra raja Kuningan Langlang Buana. Putra kedua dari tiga bersaudara yang diutus oleh Sunan Gunung Jati, Syarif Hidayatullah, Cirebon Untuk menyebarkan agama Islam di Kawali.  Dalem Dungkut menjadi raja Galuh kawali dan berkuasa pada tahun 1528 sd 1575, ia naik tahta setelah raja Jayaningrat.  Pada tahun 1575 Dalem Dungkut digantikan oleh anaknya, pangeran Bangsit yang nama lainnya adalah Mas Palembang yang berkuasa sampai tahun 1592.  Kemudian kepemerintahannya digantikan oleh pangeran Mahadikusumah, yang terkenal dengan sebutan Maharaja Sakti Kawali.

Makam Dalem Dungkut alias Ranggayunan Ditepi Sungai Cimuntur
Di Dusun Kiarakoneng, Desa Winduraja Kabupaten Ciamis

Di masa hidupnya, Dalem Dungkut mempunyai peliharaan anjing yang diberi nama si Pogor, menurut informasi yang berkembang di masyarakat, anjingnya sangat besar sebesar kerbau, jika sedang menyalak, suaranya bisa terdengar sampai radius sekitaran 1 km. Si Pogor adalah anjing pintar yang sering disuruh untuk mengantar surat ke Keraton Sunda Galuh yang sekarang dipakai Bangunan Kecamatan oleh Dalem Dungkut. Konon salah satu Desa di Kawali, penduduknya sering mendengar lolongan si Pogor, sampai akhirnya desa itu dinamakan Pogor yang sekarang jadi Desa Pogor Sari. Letak makam si Pogor (Anjing) tidak jauh dari makam Dalem Dungkut, jaraknya hanya berkisar 20 meter saja, dengan panjang makam sekitar 6 meter dan lebar 1 meter.

Makam si Pogor Anjing Kesayangan Dalem Dungkut, Ditepi Sungai Cimuntur
Di Dusun Kiarakoneng, Desa Winduraja Kabupaten Ciamis 

b. Makam  Pangeran Bangsit alias Mas Palembang  Di Situs Makam Keramat Mas Palembang Desa 
Setelah Dalem Dungkut wafat, Pangeran Bangsit atau Mas Palembang (1575–1592 M) melanjutkan pemerintahan serta meluaskan ajaran agama Islam di Daerah Kawali.

Pangeran Bangsit adalah putra Dalem Dungkut. Pangeran Bangsit wafat pada tahun 1592 M dan dimakamkan disebuah tempat yang kini dikenal dengan situs Makam Keramat Mas Palembang. Selanjutnya pemerintahan dan penyebaran agama Islam dilakukan oleh Pangeran Mahadikusumah atau dikenal dengan gelar Maharaja Kawali pada tahun 1592 – 1643 M.

Pangeran Mahadikusumah adalah putera Pangeran Bangsit cucu dari Dalem Dungkut. Beliau adalah salah satu ulama yang dipercaya Kesultanan Cirebon. Pada masa ini, dari Kawali Islam kemudian menyebar ke daerah sekitar lainnya.

Gerbang Ke Arah TPU Makam Mas Palembang Alias Pangeran Bangsit Di Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis

Makam Mas Palembang Alias Pangeran Bangsit
Di Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis

Makam Mas Palembang Alias Pangeran Bangsit Di Desa Kawali,
Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis

c. Makam Maharaja Sakti alias Maharaja Kawali alias Maha Dikusumah
Diseputar Daearah Kawali ada satu daerah yang bernama “ Winduraja “ konon menurut sejarah berasal berasal dari kata “ Windu “ yang berarti 8 dan “Raja” berarti pemimpin.

Menurut informasi Maharaja Sakti alias Maharaja Kawali alias Maha Dikusumah, dimakamkan di Dusun Sukamulya Desa Winduraja Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis. 

Maharaja Sakti alias Mahadi Kusuma alias Maharaja Kawali merupakan utusan kesultanan Cirebon generasi ke tiga. Utusan pertamanya adalah Dalem Dungkut alias Ranggayunan lalu yang kedua yaitu pangeran Bangsit atau Mas Palembang, lalu diteruskan oleh Maharaja Sakti beliau memerintah dari tahun 4592 - 1643 M. Makamnya terletak di Dusun Sukamukya Desa Winduraja Kecamatan Kawali di komplek pemakaman Cinutaja Cinuraja sendiri artinya adalah air Cahanya Raja


Maharaja Sakti alias Maharaja Kawali alias Maha Dikusumah, Dimakamkan Di Dusun Sukamulya Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis

Makam Di Sekitar Makam Maha Dikusumah
Di Dusun Sukamulya Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis

Makam Di Sekitar Makam Maha Dikusumah
Di Dusun Sukamulya Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis

d. Makam Astana Gede  Kawali Ciamis
Situs Astana Gede Terletak di Desa Kawali, Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis, tepatnya ± 21 km dari kota Ciamis ke arah Utara. Di dalam situs ini terdapat banyak peninggalan arkeologis dan yang lebih menariknya lagi, tinggalan arkeologis yang terdapat di situs ini terdapat tiga budaya yang berbeda yaitu antara budaya lokal, budaya Hindu dan Islam. Beberapa tinggalan arkeologis tersebut di dalamnya ada 6 buah batu prasasti, 3 buah batu menhir, dan 11 makam. 

Luas situs Astana Gede adalah sekitar 5 ha, keberadaannya dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun dan tinggi sehingga memberikan hawa yang sejuk dan dingin namun terkesan sarat akan nuansa religius-nya.

Kawali dibawah kekuasaan Kesultanan Cirebon dan penyebaran agama Islam, memberikan perubahan cukup besar pada Kondisi dan situasi wilayah serta penduduk Kawali. Seperti halnya keberadaan situs Linggahyang (Astana Gede Kawali), pada mulanya merupakan situs dengan Prasasti peninggalan Kerajaan Galuh pada masa Prabu Niskala Wastu Kancana, kemudian berbaur dengan makam para penyebar Agama Islam di Kawali.


Ada 11 buah makam di situs Astana Gede pada masa kesultanan Cirebon adalah Makam Pangeran Usman. Makam Pangeran Usman panjangnya 2,93 m. Pangeran Usman adalah keturunan Sultan Cirebon, menantu Maharaja Kawali (Pangeran Mahadikusumah), yang memerintah Kawali tahun 1592-1643 M. 
Pangeran Usman adalah salah seorang penyebar Islam di daerah Kawali. 

Makam Pangeran Usman

Makam Pangeran Usman

Makam lainnya adalah Makam Adipati Singacala, terletak di bagian atas punden berundak. Dalem Adipati Singacala menjadi Bupati Kawali pada tahun 1643-1718 M, Ia juga salah satu tokoh penyebar Islam di Kawali. Adipati Singacala adalah cicit Pangeran Bangsit atau Mas Palembang (ayah Maharaja Kawali). Ia menikahi Nyi Anjungsari, putri Pangeran Usman. Nyi Anjungsari pun dimakamkan di Situs Astana Gede.


Makam Adipati Singacala

Makam Keluarganya Adipati Singacala

Setelah Adipati Singacala wafat pada tahun 1718 M, pemerintahan dan penyebaran Islam kemudian dilanjutkan oleh Dalem Satia Meta alias Darma Wulan pada tahun 1718–1745 M. Ia adalah anak dari Adipati Singacala.

Dalem Satia Meta alias Darma Wulan dimakamkan di Astana Gede, berdekatan dengan makam adiknya yaitu Baya Nagasari. Serta masih ada beberapa makam lain yang dianggap keramat diantaranya makam Cakra Kusumah (seorang guru mengaji pada zaman Adipati Singacala), Eyang Sancang (salah seorang pengawal dan penjaga keamanan kabupatian Kawali). 
Di samping itu, ada 3 makam Kuncen Astana Gede (Angga Direja, Yuda Praja, Sacapraja), dan makam Surya Wiradikusumah.


e. Makam Selapajang 
Selepas masa Dalem Satia Meta alias Darma Wulan (1718–1745 M), pemerintahan dan penyebaran Islam di Kawali kemudian dilanjutkan oleh Rd. Adipati Mangkupraja I (1745–1772 M). Adipati Mangkupraja I wafat dan dimakamkan di Selapajang.


f. Makam Gunung Indrayasa
Kemudian dilanjutkan Rd. Adipati Mangkupraja II (1772–1801 M) dan Rd. Adipati Mangkuparaja III (1801–1810 M) dan diteruskan oleh Suradipraja I dan Suradipraja II. Mereka kemudian dimakamkan di Gunung Indrayasa.


g. Makam Sacapada
Eyang Sacapada diyakini sebagai salah satu penyebar Islam di Kawali. Eyang Sacapada dimakamkan di sebuah kawasan yang dinyatakan sebagai kawasan ekosistem esensial atau kawasan perlindungan setempat, dikenal dengan Situs Makam Keramat Pasarean, berdampingan dengan istrinya yaitu Ibu Andayasari.


Situs Makam Keramat Pasarean terletak di Dusun Banjarwaru Desa Kawali dengan luas kawasan mencapai 1,10 Ha.


h. Makam Gandok 
Sementara, tak jauh dari kawasan Situs Makam Keramat Pasarean, tepatnya di sebuah lingkungan yang disebut Gandok, terdapat sebuah makam keramat.

Di situs makam keramat ini disemayamkan salah satu tokoh yang dianggap paling muda dari tokoh-tokoh lainnya. Beliau dikenal dengan panggilan Eyang Mas Bagus.

Meskipun dikenal termuda diantara tokoh-tokoh penyebar Islam sezaman dengan Eyang Sacapada, Eyang Mas Bagus juga diyakini memiliki pengaruh yang sama dengan yang lain.


i. Makam Jafar Sidik 
Sebagian besar masyarakat Kawali tentu tidak asing jika mendengar nama Jafar Sidik. Tentu saja, nama tersebut digunakan sebagai jalan yang membentang dari Alun-alun Kawali menuju Dusun Banjarwaru. Tepatnya di Kawali kidul, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis.  

Nama jalan Jafar Sidik bukanlah hanya sekedar pemberian nama belaka. Namun, terdapat makam penyebar agama Islam disisi jalan tersebut, yakni sekitar 30 meter sebelum Sasak Sundawa yang mengarah ke Desa Banjarwaru dari Alun alun Kawali.  Tokoh ini sezaman dengan Sacapada dan juga Mas Bagus. Ia dikenal dengan nama Jafar Sidik.

Batu nisan Makan Jafar Sidik terbuat dari batu alam asli, tapi sudah berbentuk segi empat dengan ketebalan 2 setimeter dan kedua batu nisan tersebut bentuknya sama. Namun sepertik makam keramat pada umumnya, tidak ada keterangan apapun pada batu nisan itu.


Menurut riwayat, Japar Sidik adalah salah seorang Penyebar Islam dengan mendirikan sebuah surau sebagai tempat belajar mengaji dan kanuragan anak-anak Kawali pada masa itu.

Tidak jauh dari makam Jafar Sidik terdapat mata air Kahuripan lokasinya oleh masyarakat setempat disebut Cimurdani sampai sekarang mata air itu masih ada.



Baca Juga :

Tidak ada komentar