Siapakah Prabu Rakeyan Santang Yang Bertemu Dengan Sayyidina Ali?

Catur Gunem Dinu Facebook 
Agus Wirabudiman ; A. tah ieu mah bocoran, tina kajian simkuring kang Dedi Soemamihardja ngeunaan Prabu Siliwangi, Prabu Rakean Santang anu pendak sareng Baginda Ngali (Sadana Ngali / Sayyidina 'Ali), 625 M di Kabuyutan Ciburuy. Ieu Silsilahna Prabu Siliwangi (612-702 M), sareng Prabu Keyan Santang (Rakean Sancang).


Agus Wirabudiman ; B. ieu Grafik analisa na kang Dedi Soemamihardja :


Agus Wirabudiman : PIAGAM MADINAH. 

Adapun Pokok-pokok ketentuan yang terdapat dalam piagam Madinah antara lain sebagai berikut :
a. Seluruh masyarakat yang ikut menandatangani piagam Madinah harus bersatu membentuk satu kesatuan kebangsaan.
b. Jika salah satu kelompok yang ikut menandatangani piagam Madinah diserang oleh musuh, maka kelompok yang lain harus membelanya dengan menggalang kekuatan golongan.
c. Tidak ada satu kelompok pun yang diperbolehkan mengadakan persekutuan dengan kafir Quraisy atau memberikan perlindungan kepada mereka atau membantu mereka mengadakan perlawanan terhadap masyarakat Madinah.
d. Orang Islam, Yahudi dan seluruh warga Madinah yang lain bebas memeluk agama dan keyakinan masing-masing dan mereka dijamin kebebasannya dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan masingmasing. Tidak seorang pun diperbolehkan mencampuri urusan agama lain.
e. Urusan pribadi atau perseorangan maupun perkara-perkara kecil kelompok non muslim tidak harus melibatkan pihak-pihak lain secara keseluruhan.
f. Dilarang melakukan penindasan terhadap suku-suku lain.
g. Sejak ditandatangani piagam Madinah maka segala bentuk pertumpahan darah, pembunuhan, dan penganiayaan diharamkan di seluruh Madinah.
h. Nabi Muhammad SAW ditetapkan sebagai kepala Madinah dan memegang kekuasaan peradilan yang tertinggi.
Pasal-pasal yang dirumuskan dalam piagam Madinah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya bermaksud memperkuat kekuasaannya untuk menghadapi serangan kaum Musyrik Makkah, tetapi tujuan yang utama justru untuk menggalang kerukunan bagi warga negara di kota Madinah (K. Ali, 2003: 66-68).

Agus Wirabudiman Pasal-pasal Piagam Madinah tersebut di atas esensinya sangat mirip dengan Tatanan Negara yang telah diterapkan, dijalankan di Negara TARAJU JAWADWIPA (NEGARA PAJAJARAN) yang memiliki 150 Kerajaan Besar (Induk/Biang) dan 75 Kerajaan Kecil (Anak) yang semuanya patuh kepada Pemimpin Tertinggi yang Adil, Prabu Siliwangi Wrtikandayun (612-702 M). Selain itu, pasal-pasal pada Piagam Madinah jika dihubungkan degan bentuk Negara Taraju Jawadwipa yang telah menerapkan esensi pasal-pasal tersebut, serta dapat menjelaskan maksud dari beberapa ayat Al-Qur’an dibawah ini :
a. QS.Ibrahim:4. Artinya : (“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa (Lisan) kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.,…”).

b. QS.An-Nisa:164. “…dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu…”.

c. QS.Al-Mu’min:78. “...ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu..”.

d. QS.Al-Maidah:48. “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Syir’atan Waminhajan)”.

e. QS.Al-Baqaroh:148. “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya…”.

f. QS.Al-Baqaroh, 136. “…Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka (para Nabi Rasul) dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Tanggal 17 Ramadhan tahun 611 M, Nabi Muhammad memperoleh wahyu pertama QS.Al-‘Alaq :1-3, di Guha Hiro melalui Malaikat Jibril, pada tahun 612 M Wretikandayun Dibiseka Hyang Agung melalui Resi Guru Galunggung sebagai Raja Taraju Jawadwipa (Pajajaran) dengan gelar Prabu Galuh Siliwangi. Pasukan “Divisi Siliwangi” komandan Prabu Sempakwaja (Prabu Rakeyan Santang) sahabat Sayyidina ‘Ali Kw, Sahabat Nabi SAW bersama Divisi-divisi lain yang direkrut dari berbagai pelesok Negeri berkumpul di Madinah (tahun 629/630 M) berjumlah 30.000 serdadu untuk memerangi kedzaliman manusia yang biadab agar membangun masyarakat beradab (Akhlakul Karimah).

Dihubungkan pula dengan keberadaan jumlah kurang lebih 21.000 serdadu Prabu Keyan Santang (Sempakwaja) yang telah memiliki latar Keagamaan dari Negara asalnya Negara Taraju Jawadwipa (Negara Pajajaran), memastikan bahwa Ajaran Islam yang diemban oleh Nabi SAW bukanlah untuk mengubah ritual keagamaan / keyakinan maupun mengubah kiblat suatu ummat dari ajaran para Nabi Rasul sebelumnya, seperti : Hyang Tunggal diubah menjadi Allah Ahad, Sembah Hyang diubah menjadi Shalat, Upawasa / Puasa diubah menjadi Shaum, Sawarga / Surga diubah menjadi Jannah, Naraka / Naraloka diubah menjadi Nar Jahannam dan sebagaimnya. Oleh karena itu Nabi SAW dalam Al-Qur’an menegaskan QS.An-Naml : 91 Artinya : “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Ritual dengan Cara dan rumpun Bahasa Arab..dst)”. Piagam Madinah merupakan pondasi dasar bentuk nyata dari Ajaran Islam Muhammad Rasulullah SAW yang merupakan Ajaran Rahmatan Lil’alamiin.

Aos PDF na didieu : https://sukapura.files.wordpress.com/2017/10/prabu-siliwangi-dan-prabu-kisantang2.pdf  

Dedi Kusmayadi : Sislisalah Tarumanagara dan Kendan



 Silsilah Kalingga - Galuh Pakuan - Sunda Pakuan



Silsilah  Prabu Purbasora dan Aria Bimaraksa


Dedi Kusmayadi :  Di Cipancar Sumedang aya makamna Ratu Komara atanapi Dewi Komala Sari binti Purbasora sareng Wiradi kusuma bin Purbasora. 

Kitu deui Desa Baginda Sumedang aya batu Patilasan tempat calikna Baginda Ali RA, aya diluhur pabukitan kampung Baginda, nami desa baginda nyalira aya pakuat-kaitna sareng Baginda Ali., nu sesah nimukeun benang merahna kisah forklore diberbagai tempat.


Dedi Kusmayadi :  Sementawis kisah nu sanes Rakryan Santjang, putrana Kretawarman ti Nyimas Arum Hondje ti Pameungpeuk Cikelet Garut. abdi ngupas dinu blog ieu kang Agus Wirabudiman : https://cipakudarmaraja.blogspot.com/2016/06/rakeyan-sancang-dan-agama-islam.html

Agus Wirabudiman : Iya, alhamdulillah parantos maos abdi oge versi eta teh, mung dianalisa ku abdi...kadinya-kadinya keneh... Saprakna lami dikantunken wilayah Kendan Wretikendayun ku pasukan Ki Santang anu sajati, sumping bancah pakewuh..dll, Pon Kitu anu akon-akon / Ngaku-ngaku,,,dll, nya dijagi ku eyang Jantaka, gagah sakti namung teu angkat-angkatan ka luar nagara, numawi disilokakeun dina CP : burut (Batara Karang Nunggal) anu teu angkat-angkatan ka nagara sejen, nya ngajagi di wilayah kidul, bilih aya pasukan musuh lebet ti Pelabuhan Sancang :
Agus Wirabudiman : hal ieu tos diramalkeun ku Lengser
Tunda !
Urang nyaritakeun hiji anak inyana, Nu sakti ngala ka aki, Nu gagah ngala ka bapa, Ari ngarana ?
Ki Hiyang Santang Aria Cakrabuana !
Euweuh pantar Euweuh tanding !
Nyarita inyana ka si Lengser
Uwa uwa ! Ngaing teh ayeuna mah
Cukup elmu jeung pangweruh !
Tapi haté ngaing heunteu betah jasa ! Sabab Geus lila euweuh teunggeulaneun, Geus lila euweuh sepakeun, Euweuh sanagara Euweuh musuh ngajak rusuh! Kumaha lawan téh ngan tinggal sia bae uwa? Kuamaha amun ngaing nyaba jauh Nyiar lawan di nagara deungeun ?
Ceuk si Lengser, Ulah aden ulah !
Ceuk Ki Santang, Ku nahaeun diulah-ulah ?
Ceuk si Lengeser. Sabab amun aden miang ka buana luar Ka nagara nyabrang lautan, Engke dimana aden mulang Pajajaran teh ngan kari ngaran !

Agus Wirabudiman : Kabuyutan Ciburuy ini bermula ketika pada zaman dahulu tempat tersebut digunakan oleh Prabu Kiyan Santang sebagai arena pertarungan dengan jawara-jawara di Pulau Jawa. Ini bermula pada saat Prabu Kiyan Santang menemukan sebuah keris dan beliau mendapat amanat untuk menancapkannya pada sebuah batu, sehingga dari batu keluar air. Lalu beliau disuruh mengikatkan keris tersebut pada sorbannya dan dihanyutkan sampai keris itu berhenti. 

Di tempat keris itu berhentilah Prabu Kiyan Santang akan menemukan lawannya. Pada suatu hari Prabu Kiyan Santang sedang mengadakan pertarunagan di daerah tersebut tetapi tidak ada satupu lawan yang dapat mengalahkannya, hingga datanglah utusan Sayyidin Ali yaitu K.H Mustofa yang berhasil mengalahkannya yang memberi amanat kepada beliau untuk pergi ke tanah suci untuk bertemu Sayyidin Ali dan senjata-senjata Prabu Kiyan Santang ditinggalkan di Ciburuy yang menurut penuturan Juru Kunci senjata tersebut di tinggalkan dalam sebuah gentong. K.H Mustofa tiada lain adalah Sayyidina ‘Ali sendiri.

Agus Wirabudiman ; Nama kata “Kandang” mengingatkan pada sebuah Naskah Sunda Kuna Kropak 630 : Sanghyang Siksa “Kandang” Karesian, yang kebetulan naskah tersebut diperoleh dari wilayah Kandang Wesi itu tepatnya di Situs Kabuyutan Ciburuy. Di daerah Situs Kabuyutan Ciburuy terdapat tiga buah rumah adat yang bernama Bumi padaleman (tempat menyimpan benda-benda naskah kuno, daun lontar dan nipah), Bumi Patamon (tempat penyimpanan benda tajam seperti keris, kujang trisula, dan alat kesenian goong renteng) dan lumbung padi atau “Leuit”, (tempat menyimpan bahan makanan terutama padi). Alat kesenian goong renteng yang ditemukan di daerah ini merupakan cikal bakal dari kesenian degung yang ada sekarang ini. 

Luas daerah Kabuyutan Kabuyutan Ciburuy ini sekitar 1 hektar. Panorama indah serta suasana damai dengan udara yang sejuk akan dijumpai ketika kita berada di kawasan situs ini. Setiap hari rabu minggu ke tiga bulan Muharam sekitar jam 19.30, selalu diadakan upacara “Seba”, yang merupakan upacara syukuran kepada orang-orang yang berkedudukan tinggi ilmu dan wawasannya dengan disertai penyerahan sesuatu yang baik. Syukuran upacara tersebut dihajatkan kepada Prabu Siliwangi dan Prabu Kiansantang sebagai tokoh atau pemuka masyarakat pada jaman dulu yang memiliki ilmu, wawasan dan kesaktian yang tinggi. Masyarakat sekitar secara rutin mengadakan upacara pencucian keris yang dilaksanakan setiap 1 Muharam. Di kawasan situs Ciburuy juga terdapat larangan berupa pantangan dimana setiap hari jumat dan hari sabtu tidak boleh seorangpun memasuki kawasan Kabuyutan Ciburuy.

Dedi Kusmayadi : Sayyidina Ali bin Abi Talib (Bahasa Arab: علي بن أبي طالب‎; 13 Rejab, 22 atau 16 SH – 21 Ramadan, 40 H; 20 September 601 atau 17 Julai 607 – 31 Januari 661 Masihi) ialah sepupu dan menantu Nabi Muhammad s.a.w. selepas mengawini puteri Rasulullah s.a.w. iaitu Fatimah Az-Zahra. Beliau merupakan Khulafa al-Rasyidin yang keempat, memerintah dari tahun 656 - 661 M. Selama Sayyidina belum menjadi Khalifah kemungkinan beliua mengembara ke Tanah Djawa, lewat pelabuhan Caruban sebagai Pelabuhan Tertua di Jawa Barat. 

Konon pada jaman Prabu Aji Putih Raja Tembong Agung Sumedang pun hasil rempah-rempah dijual lewat pelabuhan Caruban, demikian juga pada jaman cucunya Prabu Lembu Agung dari Darmaraja Sumedang hingga pernah menginjakan kakinya di Caruban kota Terasi dan Pelabuhan tertua di Jawa Barat ini.

Pangandika kanjeng Rosulullah SAW dinu Hadits : “Uthlubul ilmi walaw bi al shind” / “uthlub al-'ilm wa law bi al-sÄ«n  / Tuntutlah ilmu meskipun dengan SHIND”

SHIND dina basa Sansekerta kuno hartina Nagara berperadaban nu maju. Kecap al-sÄ«n sanes di China tapi Hindia Timur (Nusantara). 


Ieu pangandika/Kasauran Kanjeng Rosul SAW kanggo saha jaman harita??? piraku kanggo jaman kiwari mah...makana aya nu pro sareng kontra dinu hal hadits ieu...

Hadits - hadits :
Dari Ali ra. Telah berkata : “Bumi yang paling wangi adalah tanah AL HIND, di sanalah Nabi Adam as. Diturunkan dan pohonnya tercipta dari wangi surga”. (Kanzul Ummal).

Dari Ibnu Abbas r.anhum. telah meriwayatkan Ali Bin Abi Thalib ra. Telah berkata : “Di bumi tanah yang paling wangi adalah tanah AL HIND (karena) Nabi Adam as. telah diturunkan di AL HIND, maka pohon-pohon dari AL HIND telah melekat wangi-wangian dari surga.” (HR. Hakim)

Dari Ali Ra. berkata bahwa dua lembah yang paling baik dikalangan manusia adalah lembah yanga da di MEKKAH dan lembah yang ada di AL HIND ,dimana Nabi Adam as. diturunkan. Didalam lembah itu ada satu bau yang wangi, yang darinya bisa membuat kamu jadi wangi.

Dan dua lembah yang paling buruk dikalangan manusia adalah lembah Ahqaf dan lembah yang ada di Hadramaut bernama Barhut. Dan sumur yang paling baik adalah sumur Zam Zam dan sumur yang paling buruk diantara manusia adalah sumur Balhut. Dan Balhut adalah (nama) seseorang ysng tinggal di Barhut, sedang Barhut adalah tempat akan dikumpulkannya arwah orang-orang kafir. (HR. Musonif Abdu Razaq).

Agus Wirabudiman : tah HINDI di arab disebat na nganggo awalan AL = janten AL-HINDI, tina HINDI-HYANG nama kerajaan kecil dari 75 kerjaan Taraju Jawadwipa tea. kapungkurna samemeh disebat dina naskah CP wilayah / Alas Galunggung, eta anu kalebet wilayah kerjaan kecil HINDI-HYANG dugi ka Gn. Payung, Langkaplancar.. (Situs Lingga-Yoni, Indi-hyang, Lingga-Payung : Gn.Payung). 

Agus Wirabudiman : Nu mawi anaslisa simkuring, Malik Al Hindi (Raja dari Al Hind = Prabu Sempakwaja) ke manawi kang Dedi Kusmayadi kapayun diguar dugika Burujus-Sarthan na anu sangkut pautna sareng lungsur na Nabi Adam as di HINDI Hyang / AL Hindi, Nusantara...dst, disangkut-pautkeun sareng Ilmu Huruf : Ciri khasna, Identifikasina.

Wallahu alam 

Baca Juga :

Tidak ada komentar