BATU AMPAR PANGSHOLATAN DI SITUS CIBURUY

BATU AMPAR PANGSHOLATAN DI SITUS CIBURUY SEBAGAI AWAL TEMPAT PERTEMUAN ADU KESAKTIAN KIAN SANTANG DENGAN EYANG SYEKH HAJI WALI MUSTOFA SEBAGAI UTUSAN SAYYID ALI MURTADHO


Ciburuy alias Cimuruy nama yang sebenarnya adalah nama sebuah kampung di desa Pamalayan Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut. Letaknya di kaki Gunung Cikuray, terlewati oleh tiga wahangan (sungai kecil), yakni sebelah timur wahangan Cisaat, sebelah utara Baranangsiang, dan wahangan Ciburuy di sebelah barat.

Gunung Cikuray dahulunya biasa disebut Srimanganti, yang berkaitan dengan peristiwa ditemukannya naskah lontar Sunda Kuna di sekitar daerah itu oleh Raden Saleh tahun 1856, yang kemudian diserahkan pada Bataviaasche Genootschap (sekarang Museum Nasional Jakarta). Naskah lontar terdapat pada kropak no. 410 dan diberi tulisan : Carita Pakuan naskah Raden Saleh, Pantun Sunda pada daun lontar, penulisannya Kai Raga, cucu pertapa di Gunung Cikuray (CM. Pleyte, TBG. 1914, halaman 371).

Jika dikaitkan dengan letak Kabuyutan Ciburuy yang berada di lereng sebelah barat Gunung Cikuray, ada kesamaan dengan penjelasan di atas sebagai yang disucikan karena tempat kegiatan keagamann di mana pemukanya ialah Kai Raga. Bangunan fisik kabuyutan Ciburuy sama dengan kabuyutan yang lainnya, yakni menghadap ke Gunung Cikuray, salah satu gunung yang tinggi di Kabupaten Garut. Luasnya sekarang tidak kurang dari satu hektar dan ditanami bermacam pepohonan besar dan kecil, hal ini juga yang menonjolkan ciri-ciri dari sebuah kabuyutan.

Sebagai tempat yang memiliki peninggalan arkeologis Kabuyutan Ciburuy memiliki rupa-rupa bangunan seperti Bumi Patamon (tempat menerima tamu), Leuit, Saung Lisung dan Padaleman yang digunakan untuk menyimpan rupa-rupa titinggalan karuhun seperti trisula, mata tombak, genta, naskah, dan sebagainya. Dahulunya Padaleman digunakan untuk tinggal para wiku atau pandita (agamawan Hindu/ Budha) yang letaknya lebih tinggi daripada bangunan lainnya dan agak tersembunyi karena tertutup rimbunan pohon yang tinggi dan besar. Oleh sebab itu maka Kabuyutan Ciburuy disebut Scriptorium atau temapt kegiata membuat naskah-naskah dan atau tempat menyimpan naskah-naskah dari luar, juga terbukti ditemukan data pendukungh seperti banyaknya naskah lontar dan nipah, pisau, pangot, gunting, dan frame kacamata dari tanduk yang kemungkinan besar di pkai para wiku waktu menulis naskah.



Kabuyutan Ciburuy ini bermula ketika pada zaman dahulu tempat tersebut digunakan oleh Prabu Kian Santang sebagai arena pertarungan dengan jawara-jawara di Pulau Jawa. Ini bermula pada saat Prabu Kian Santang menemukan sebuah keris dan beliau mendapat amanat untuk menancapkannya pada sebuah batu, sehingga dari batu keluar air. Lalu beliau disuruh mengikatkan keris tersebut pada sorbannya dan dihanyutkan sampai keris itu berhenti. Di tempat keris itu berhentilah Prabu Kian Santang akan menemukan lawannya.

Pada suatu hari Prabu Kian Santang sedang mengadakan pertarungan di daerah tersebut tetapi tidak ada satu pun lawan yang dapat mengalahkannya, hingga datanglah utusan Sayyid Ali Murtadho yaitu Eyang Syekh Haji Wali Mustofa yang berhasil mengalahkannya yang memberi amanat kepada beliau untuk pergi ke tanah suci untuk bertemu Sayyidin Ali dan senjata-senjata Prabu Kiyan Santang ditinggalkan di Ciburuy yang menurut penuturan Juru Kunci senjata tersebut ditinggalkan dalam sebuah gentong.


KIAN SANTANG PERGI KE MEKAH
Tiba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kian santang itu adalah Sayyid Ali Murtadho, yang tinggal jauh di Tanah Mekah. Lalu orang tua itu berkata kepada Prabu Kian santang, "Kalau memang anda mau bertemu dengan Sayyidina Ali harus melaksanakan dua syarat : Pertama, harus mujasmedi dulu di ujung kulon. Kedua, nama harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang - Berani, Setra - Bersih-Suci). Setelah Prabu Kian santang melaksanakan dua syarat tersebut, maka berangkatlah dia ke tanah Suci Mekah.

Setiba di tanah Mekah dia bertemu dengan seorang lelaki yang disebut Sayyid Ali, namun Kian santang tidak mengetahui bahwa laki-laki itu bernama Sayyid Ali. Prabu Kian santang yang namanya sudah berganti menjadi Galantrang Setra menanyakan kepada laki-laki itu, "Kenalkah dengan orang yang namanya Sayyid Ali?" Laki-­laki itu menjawab bahwa ia kenal, malah bisa mengantarkannya ke tempat Sayyid Ali.

Sebelum berangkat laki-laki itu menancapkan dulu tongkatnya ke tanah, yang tak diketahui oleh Galantrang Setra. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Sayyid Ali berkata, "Wahai Galantrang Setra tongkatku ketinggalan di tempat tadi, coba tolong ambilkan dulu." Semula Galantrang Setra tidak mau, namun Sayyid Ali mengatakan, "Kalau tidak mau ya tentu tidak akan bertemu dengan Sayyid Ali."

Terpaksalah Galantrang Setra kembali ke tempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan, dikira tongkat itu akan mudah lepas. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, malahan tidak sedikitpun berubah. Sekali lagi dia berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi daripada kecabut, malahan kedua kaki Galantrang Setra amblas masuk ke dalam tanah, dan keluar pulalah darah dari seluruh tubuh Galantrang Setra.

Ternyata laki-laki yang baru dikenalnya tadi namanya Sayyidina Ali. Setelah Prabu Kian santang meninggalkan kota Mekah untuk pulang ke Tanah Jawa (Pajajaran) dia terlunta-lunta tidak tahu arah tujuan, maka dia berpikir untuk kembali ke tanah Mekah lagi. Maka kembalilah Prabu Kiansantang dengan niatan akan menemui Sayyidina Ali dan bermaksud masuk agama Islam. Prabu Kian santang masuk agama Islam, dia bermukim selama dua puluh hari sambil mempelajari ajaran agama Islam. Kemudian dia pulang ke tanah Jawa (Pajajaran) untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya. Setibanya di Pajajaran dan bertemu dengan ayahnya, dia menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali. Pada akhir ceritanya dia memberitahukan dia telah masuk Islam dan berniat mengajak ayahnya untuk masuk agama Islam.


Sejarah Dan Nasab Silsilah SAYYID ALI MURTADHO

Adalah cucu Syekh Jamaluddin Jumadil Qubro, seorang ulama besar Ahlussunnah wal jama’ah bermahzab Syafi’i, mempunyai seorang putra bernama Ibrahim. Karena berasal dari Samarqand(Bukhara), maka Ibrahim kemudian mendapat tambahan Samarqandi. Orang jawa sangat sukar mengucapkan Samarqandi maka mereka hanya menyebutnya menjadi Syekh Ibrahim Asmarakandi. Dia memerintahkan anaknya untuk berda’wah ke wilayah lain di Asia. Perintah ini dilaksanakan, dan Ibrahim kemudian diambil menantu oleh raja Cempa, dijodohkan dengan putri raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan. Negeri Cempa ini menurut sebagian ahli sejarah terletak di Muangthai. Dari perkawinannya dengan Dewi Candrawulan maka Maulana Malik Ibrahim Asmarakandi pada tahun 1401 M, lahirlah dua orang putera diberi nama yaitu Sayyid Ali Rahmatullah (Raden Rahmat), dan Sayyid Ali Murtadho’ (Raden Santri, sebagian orang menyebutnya Ali Murtolo).

Sedangkan adik Dewi Candrawulan yang bernama Dewi Dwarawati diperistri oleh Prabu Brawijaya Majapahit. Dengan demikian Raden Rahmat (Sunan Ampel) itu keponakan Ratu Majapahit dan tergolong putra bangsawan atau pangeran kerajaan. Raja Majapahit sangat senang mendapat istri dari negeri Cempa yang wajahnya tidak kalah menarik dengan Dewi Sari. Sehingga istri-istri lainnya diceraikan, banyak yang diberikan kepada para adipatinya yang tersebar di seluruh Nusantara.

Kerajaan Majapahit sesudah ditinggal mahapatih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk mengalami kemunduran drastis. Kerajaan terpecah belah karena terjadinya perang saudara, dan para adipati banyak yang tak loyal lagi kepada Prabu Hayam Wuruk yaitu Prabu Brawijaya Kertabhumi. Pajak dan upeti kerajaan tak banyak yang sampai ke istana Majapahit. Lebih sering dinikmati oleh para adipati itu sendiri. Hal ini membuat sang Prabu bersedih hati. Lebih-lebih lagi dengan adanya kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pangeran yang suka berpesta pora dan main judi serta mabuk-mabukan. Prabu Brawijaya sadar betul bila kebiasaan semacam itu diteruskan negara akan menjadi lemah dan jika negara sudah kehilangan kekuatan betapa mudahnya bagi musuh untuk menghancurkan Majapahit Raya. Ratu Dwarawati, yaitu istri Prabu Brawijaya mengetahui kerisauan hati suaminya. Dengan memberanikan diri ia mengajukan pendapat kepada suaminya.

Maka pada suatu hari diberangkatkanlah utusan dari Majapahit ke negeri Cempa untuk meminta Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Majapahit. Kedatangan utusan Majapahit disambut gembira oleh raja Cempa, dan raja Cempa tidak keberatan melepas cucunya ke Majapahit untuk meluaskan pengalaman. Keberangkatan Sayyid Ali Rahmat ke Tanah Jawa tidak sendirian. Ia ditemani oleh ayah dan kakaknya. Sebagaimana disebutkan di atas, ayah Sayyid Ali Rahmat adalah Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan kakaknya bernama Sayyid Ali Murtadho.

Sedangkan kakaknya Sayyid Murtadho kemudian meneruskan perjalanan, beliau berda’wah keliling ke daerah Nusa Tenggara, Madura dan sampai ke Bima. Disana beliau mendapat sambutan raja Pandita Bima, dan akhirnya berda’wah di Gresik mendapat sebutan Raden Santri, beliau wafat dan dimakamkan di Gresik. Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanan ke Majapahit menghadap Prabu Brawijaya sesuai permintaan Ratu Dwarawati.

Prabu Brawijaya meminta kepada Raden Rahmat untuk memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mempunyai budi pekerti yang mulia. Disebutkan dalam literatur bahwa selanjutnya Sayyid Ali Rahmatullah menetap beberapa hari di istana Majapahit dan dijodohkan dengan salah satu putri Majapahit yang bernama Dewi Candrawati. Dengan demikian Sayyid Ali Rahmatullah adalah salah seorang Pangeran Majapahit, karena dia adalah menantu raja Majapahit.

Semenjak Sayyid Ali Rahmatullah diambil menantu Raja Brawijaya maka beliau adalah anggota keluarga kerajaan Majapahit atau salah seorang pangeran, para pangeran pada jaman dulu di tandai dengan nama depan Raden. Selanjutnya beliau lebih dikenal dengan sebutan Raden Rahmat. Dan karena beliau menetap di desa Ampeldenta, menjadi penguasa daerah tersebut maka kemudian beliau dikenal sebagai Sunan Ampel.

Prabu Brawijaya sangat senang atas hasil didikan Raden Rahmat. Raja menganggap agama Islam itu adalah ajaran budi pekerti yang mulia, maka ketika Raden Rahmat kemudian mengumumkan ajarannya adalah agama Islam maka Prabu Brawijaya tidak menjadi marah, hanya saja ketika dia diajak untuk memeluk agama Islam ia tidak mau. Raden Rahmat diperbolehkan menyiarkan agama Islam di wilayah Surabaya bahkan diseluruh Majapahit, dengan catatan bahwa rakyat tidak boleh dipaksa, Raden Rahmatpun memberi penjelasan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama.

Jika ditilik pada tarikh kelahiran Sayyid Ali Murtadho dan Sayyid Ali Rahmatullah yaitu sekira tahun 1401 M, maka besar dugaan bahwa mereka beserta ayahnya datang ke Majapahit 20an tahun kemudian. Setelah mendapat sambutan resmi dari Prabu Brawijaya, lalu Raden Rahmat dinikahkan dengan puterinya, barulah mereka berdua dikukuhkan sebagai keluarga besar Kerajaan Majapahit, mendapat gelar-gelar kehormatan kerajaan. Dan sekitar tahun 1430, dua bersaudara ini lalu berpisah.

Sayyid Ali Murtadho sendiri kemudian berangkat ke wilayah-wilayah Majapahit di luar Jawa, untuk mengembangkan misi perbaikan moral jajaran pemerintahan Majapahit yang sudah carut-marut itu. Sehingga tidak heran, jika kehadiran Sayyid Ali Murtadho di negeri Bima misalnya, disambut hangat oleh Raja Pandhita Bima saat itu, karena Sayyid Ali adalah utusan resmi Prabu Brawijaya yang harus dilayani dan dijaga oleh seluruh kerajaan protektorat majapahit di Nusa Tenggara. Kita harus ingat, bahwa pada akhir abad ke 14 M, negeri Bima telah ditaklukkan oleh misi Majapahit di bawah pimpinan Maha Patih Gajah Mada. Wajarlah kemudian bila Sayyid Ali diterima dengan baik, bahkan dalam sebuah catatan Melayu disebutkan, Sayyid Ali Murtadho disematkan gelar sebagai Raden Pandhita Bima.

Selama berada di Bima, Sayyid Ali Murtadho melakukan dakwah khusus dalam lingkup kerajaan, tidak dengan misi Islamisasi secara langsung, melainkan dengan model pengenalan sebuah nilai hidup baru. Sebahagian dari pemangku jabatan dalam Istana Negeri Bima tertarik dengan ajaran tersebut, kemudian memeluk agama Islam. Saya menduga kuat, bahwa selama di Bima pula kemungkinan besar Sayyid Ali Murtadho juga pernah dinikahkan dengan puteri Raja, karena seperti yang sudah kita maklumi, bahwa tradisi dakwah para Wali di awal-awal masa syiarnya ialah dinikahkan dengan bangsawan setempat, sehingga gelar yang diberikan kepada Sayyid Ali Murtadho itu kemungkinan karena beliau adalah keluarga besar kerajaan Bima, sama halnya dengan adiknya Ali Rahmatullah yang dinikahkan dengan Dewi Candrawati puteri Prabu Brawijaya. Sejak saat itulah dalam Negeri Bima, telah tumbuh dan berkembang ajaran-ajaran Islam, yang dirintis dengan sistemik oleh Sayyid Ali Murtadho, dan ajaran-ajaran ini menimbulkan simpati di kalangan penduduk juga. Meskipun secara faktual, beberapa elite pemangku kerajaan Bima masih loyal dengan agama Hindu-Mahayana yang menjadi ideologi absolut Prabu Brawijaya.

Konstalasi inilah yang akhirnya telah memecah kerajaan Bima pada abad ke 15 sehingga terbagi dalam dua corak, yakni bangsawan Majapahit berhaluan Hindu dan sebahagian lagi telah memeluk agama Islam. Kelompok-kelompok bangsawan muslim ini kemudian berkembang melalui kontak-kontak sosial seperti pernikahan, dan lambat laun membentuk suatu perkampungan sendiri. Dan perkampungan Islam pertama ini saya duga terletak di kawasan selatan Lambu (wilayah rekreasi pantai Papa). Semenjak terbelahnya ideologi para bangsawan inilah mulai ada benih-benih perbedaan yang terus meruncing namun tidak sampai berbuntut pada peperangan nyata, karena antara para bangsawan negeri Bima masih terikat dengan hubungan kekerabatan yang kuat.

etelah Sayyid Ali Murtadho kembali ke Jawa, Islam sudah tumbuh dengan mapan dan beberapa santrinya sudah dianggap mampu untuk meneruskan syiar Islam sepeninggal dirinya. Pada saat yang sama pula, pengaruh Prabu Brawijaya terus mengalami kemunduran, apalagi pasca mangkatnya Prabu Brawijaya dan penyerangan oleh Kediri terhadap Majapahit, yang akhirnya membenamkan Majapahit selama-lamanya. Sedangkan Kediri sendiri tidak memiliki kontak khusus dengan Negeri Bima. Kerajaan Bima kemudian tumbuh tanpa patronase yang jelas lagi, dan terjadi krisis internal kerajaan. Kalaupun kejayaan itu nampak, tidak lain hanyalah faktor pusat penyembahan spiritual Sang Hyang Api yang tetap ramai dikunjungi oleh para peziarah Hindu lain di nusantara.

Persis ketika Tome Pires singgah di negeri Bima pada tahun 1515 M, dia masih tetap melihat sebuah aktifitas perdagangan dan spiritual yang marak adanya, karena melihat banyaknya kapal-kapal asing yang bersandar di pelabuhan Bima, dan terpampang begitu banyak candi (pharaos) di kawasan pusat kerajaan. Pires mungkin hanya menyinggahi kawasan pesisir Wera Utara di sekitarSang Hyang Api, lalu sempat melihat kawasan utara Donggo (Sowa, Sai dan Sampungu) yang masih dihiasi oleh puluhan candi-candi Syiwa, sehingga menyimpulkan Raja Bima sebagai seorang kafir. Tidak demikian adanya kalau Pires berlama-lama di daratan dan menyusuri wilayah-wilayah lain Pulau Bima, dan bercengkrama dengan sebahagian penduduknya yang sudah memeluk agama Islam.

Setelah berhasil mengIslamkan daerah Madura dan Nusa Tenggara yang masyarakatnya semula kental suasana Budha dan Hindhu, Sayyid Ali Murtadho diminta kembali ke Gresik. Pada 9 April 1419 Syekh Maulana Malik Ibrahim Wafat, beliau menggatikan peran Syekh Maulana Malik Ibrahim sebagai imam penyebaran Islam di Gresik. Beliau berdakwah di Gresik mendapat beberapa sebutan yakni “Raja Pandhita Wunut” serta sebutan yang sangat melekat dan banyak dikenal masyarakat adalah “Raden Santri”.

“Raden Santri” menikah dengan Rara Siti Taltun atau RA. Madu Retno binti Aryo Baribin dan mempunyai 4 anak bernama Usman Haji (Sunan Ngudung) , Haji Usman, Nyai Gede Tundo, dan Ali Musytar. selanjutnya Usman Haji setelah dewasa meminang putri Tumenggung Wilwatikta dan mempunyai anak bernama Amir Haji atau Dja’far Sodiq atau (Sunan Kudus), dan Dewi Sujinah. Haji Usman menikah dengan Siti Syari’at binti sunan Ampel mempunyai anak bernama Amir Hasan (Sunan Manyuran). Sedangkan Nyai Gede Tundo menikah dengan Kholifah Husain (Sunan Kertoyoso) mempunyai anak Kholifah Suhuroh. Selain Rara Siti Taltun, Raden Santri juga menikah dengan Dyah Retno Maningjum Binti Arya Tejo.

Raden Santri wafat pada tahun 1317 Saka / 1449 M atau bertepatan dengan 15 Muharam abad ke-8 Hijriyah. Haul beliau diperingati setiap tanggal 15 Muharram. Beliau dimakamkan di desa Bedilan, kecamatan Gresik, kabupaten Gresik. Makam beliau hanya berjarak 100 M utara Alon-alon Gresik, atau hanya berjarak 200 M utara makam Syekh Maulana Malik Ibrahim.

SILSILAH “RADEN SANTRI” Sayyid Ali Murtadho

1. Sayyid Ali Murtadho “RADEN SANTRI” bin
2. Maulana Ibrahim Asmarakandi bin
3. Syaikh Jumadil Qubro / Jamaluddin Akbar Khan bin
4. Ahmad Jalaludin Khan bin
5. Abdullah Khan bin
6. Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
7. Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
8. Muhammad Sohibul Mirbath (Hadhramaut)
9. Ali Kholi' Qosam bin
10. Alawi Ats-Tsani bin
11. Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
12. Alawi Awwal bin
13. Ubaidillah bin
14. Ahmad al-Muhajir bin
15. Isa Ar-Rumi bin
16. Muhammad An-Naqib bin
17. Ali Uraidhi bin
18. Ja'far ash-Shadiq bin
19. Muhammad al-Baqir bin
20. Ali Zainal Abidin bin
21. Imam Husain bin
22. Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra bin
23. NABI MUHAMMAD SAW

Wallahu'alam.

============
Pengirim Berita : Oos Supriadi

Baca Juga :

Tidak ada komentar