FALSAFAH SANGKURIANG DAN DAYANG SUMBI DALAM BUDAYA SUNDA

Ngeunaan saha jeung dimana kisahna Sangkuriang jeung Dayang Sumbi mimitina ditulis dinu daun lontar ku pangeran ti Padjajaran dinu awal abad taun 16 Masehi nyaeta Pangeran Jaya Pakuan atawa Pangeran Ameng Layaran anu nuliskeun "Naskah Bujangga Manik", kitu oge ngan saeutik ditulis dinu Naskah Bujangga Manikna, salila Pangeran Jaya Pakuan, ider Bhuana ngalalana tempat-tempat anu dianggap sakral atawa tempat suci agama Hindu, ti mimiti pulo jawa nepi ka pulo Bali.

Eusina eta naskah kurang leuwih ngan sakieu :

Lempang ngaing ka baratkeun,
Datang ka bukit Patenggeng,
Sasakala Sangkuriang,
Masa dek nyitu Citarum...


Jadi kisah Sangkuriang teh sasakala nu turun tinurun atawa carita urang Sunda baheula, anu kadieuna mah ngarupakeun naskah atawa tulisan pujangga sunda meunang ahli pantun/ahli suluk,  ahli Susastera Kasundaan.


PARADIFGMA FALSAFAH SUNDA, bukan satu-satunya tafsir falsafah. Seperti ada yang menafsirkan Sangkuriang berasal dari kecap Sang Kuring atau Ingsun – aku. Keberadaan Sang kuriang di dunia berasal dari hasil perkawinan dua unsur, yakni laki-laki dan perempuan, karena alasan jatuhnya Totopong (topi yang dibuat dari kulit bambu). Totopong dapat diartian sebagai pelindung (topi) dari cuaca panas maupun hujan, atau dari kondisi apapun. Jatuhnya totopong artinya menjadi tidak adanya yang melindungi kepala, atau ketia daannya yang melindungi pikiran manusia, sehingga perbuat an apa pun menjadi halal. Ada pula yang menyebutkan ‘toropong’, alat pembesar penglihatan, ada juga yang menyebut kan Taropong, adalah alat untuk melihat agar lebih jelas, teliti dan fokus.

Ir. Engkus Ruswana MM, salah seorang planolog ITB dan tokoh kasundaan menguraikan falsafah ini, melalui merinci nama-nama dan kebendaan dalam kisah Sangkuriang, seperti isti lah : TUMANG, merupakan seekor anjing hitam namun ba ngus dan buntutnya berwarna Kuning. Hal ini mengandung falsafah, bahwa warna HITAM perlambang bumi atau lemah yang memiliki sifat teguh, abadi, sedangkan KUNING mengandung arti, bahwa kisah seperti ini bersifat urusan duniawi, sarta keberadaannya merupakan takdir dari Tuhan. Istilah TUMANG berasal dari bahasa kawi, artinya awu – hawu, yang mengandung hawa panas, atau ditafsirkan mengandung ha wa nafsu, sedangkan DAYANG adalah sebutan untuk perem puan. Arti lainnya berasal dari kata DANGIANG (DAH-YANG), atau bangsa lelembut atawa halus. DAYANG bisa berasal dari kata DANG (= DANG DANG) dam HYANG (=SUCI=DÉWA). SUMBI yaitu tajamnya pertimbangan. Sedangkan jika dipenggal mengandung arti WUJUD DIRI (SUM= SUMSUM = ACINING; BI = AWÉ WÉ = IBU PERTIWI = BUMI). Jadi Dayang Sumbi ngandung arti pertimbangan yang tajam, harus teliti, sabar, telaten di dalam mencari pengetahuan, perlu memahami bahwa wujud diri pada hakekatnya suci, berasal dari ACINING (SARIPATI) IBU PERTIWI/BUMI yang mengandung napsu (Dayang Sumbi kawin dengan si Tumang).

Dayang Sumbi tetep cantik dan awet jaya, menggambarkan bahwa wujud manusia sampai dengan masa kini tetap cantik, tidak ada yang berubah strukturnya, manusia tidak dapat merubah wujudnya, sekalipun sudah tua dimakan usia, lajim nya tidak ada manusia yang menginginkan meninggalkan ja sadnya, malahan tetap dicintai dan disayangi, oleh Kuring nya. Dalam falsafah atau kepercayaan Sunda menandakan Sang Kuring atau Ingsung bukan sifat ragawi/lahir, juga bu kan rohani/batin, tapi dilahirkan bersama dalam batinnya. Ingsun (kuring) merupakan dzat suci yang berasal dari Tu han yang Maha Suci yang tetap ada selama manusia menyatu dengan kuringnya.

Lahirnya Ingsun ke dunia melewati musabab ibu dengan bapak. Dalam hal ini Dayang Sumbi adalah ibu dan si Tumang adalah Bapak. Di dunya, Ingsun yang berada didalam jasad yang berasal dari saripati dunia (dayang Sumbi). Oleh ka renanya hawa nafsu akan selalu menyertai Sangkuriang (Si Tumang selalu mengikuti kemanapun). Jika tidak memiliki hawa nafsu yang menyertai jasad (raga), dipastikan tidak akan ada kehidupan didunia dan tidak akan ada Ingsun lahir kedunia. Sebab ketika si Tumang di bunuh maka Dayang Sum bi sangat marah, berarti, jika hawa nafsu dibunuh tentunya kepentingan jasad (raga) akan terlantar, akibatnya akan hilang kehidupan manusia didunia. Mungkin bisa dibayangkan jika manusia tidak memiliki keinginan untuk makan, minum, bekerja, birahi, dan nafsu lainnya), oleh karenya didalam il mu Ki Sunda tidak mengenal ajaran membunuh nafsu, hanya memang harus dikendalikan, dan manusa sunda tidak diper bolehkan mengasingkan diri meninggalkan urusan dunia. Sa ma artinya dengan melepaskan diri dari tanggung jawab sosial dan kehidupan.

Hidup Ingsun didunia harus memiliki ilmu, hasil belajar dan olah pikir yang kreatif. Dalam legenda ini disimbolkan kepala Sangkuriang dipukul kepalanya hingga terluka. Sang Kuriang memaksa untuk menikahi Dayang Sumbi ngandung arti, bah wa Ingsun berasal dari Tuhan hakekatnya suci, tentunya memiliki rasa dan tanggung jawab untuk menyelamatkan diri (raga) asal dari dunia yang ditempatinya agar selamat, kukuh dan tidak mengingkari jalan kemanusiaan, melalui jalan memanunggalkan kuring (ingsun) dengan kurungnya (raganya) dalam satu perahu yang sehaluan sepanjang waktu mengembara dunya (parahu untuk berlayar di telaga). Didalam mewujudkan niatnya, Sang Kuriang dibantu Guriang Tujuh (= Guru Hyang Tujuh), maksudnya tujuh penguasa suci yang ada didalam diri manusia, yakni : kekuasaan/gerak-langkah, kehendak/kemauan hidup, pendengar, pengucap, penciuman, yang menjadi guru sejati manusia untuk mengetahui, merasakan, menyaksikan keadaan dunia dan isinya, bukan katanya atau berita, tapi dapat dirasakan diri sendiri secara totalitas.

LEGENDA SANGKURIANG, mengandung falsafah yang tinggi, menurut HIDAYAT SURYALAGA, pada orasi Ilmiah Hari Wisuda Mahasiswa ITENAS, yang diberi judul Kajian Hermeneuti ka terhadap Legenda dan Mitos Gunung Tangkuban parahu dengan segala aspeknya (Bandung, 28 Mei 2005), menye butkan bahwa legenda atau sasakala Sangkuriang dimaksud kan sebagai cahaya pencerahan (SUNGGING PERBANGKARA) bagi siapa pun manusianya (tumbuhan cariang) yang masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan mene-mukan jatidiri ke manusiannya (WAYUNG YANG). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini melahirkan kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (DAYANG SUMBI, RARASATI). Tetapi bila tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadar an penuh (teropong), maka dirinya akan dikuasai dan diga gahi oleh rasa ke bimbangan yang terus menerus (digagahi si Tumang) yang akan melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu jiwa yang belum tercerahkan (SANGKURIANG). Ketika Sang Nurani termakan lagi oleh kewaswasan (Dayang Sumbi me makan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran yang haki ki. Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio Sang Ego (kepala Sangkuriang di pukul). Kesombongannya pula yang meme ngaruhi Sang Ego Rasio untuk menjauhi dan meninggalkan Sang Nurani. Ternyata keangkuhan Sang Ego Rasio yang ber lelah-lelah mencari ilmu (kecerdasan intelektual) selama pe ngembaraannya di dunia (menuju kearah Timur). Pada akhir nya kembali ke barat yang secara sadar maupun tidak sadar selalu dicari dan dirindukannya yaitu Sang Nurani (Pertemu an Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).

Walau demikian ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (Sangkuriang) dengan Sang Nurani yang tercerahkan (Da yang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya Sang Ego Rasio (Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan so sial yang dilandasi kasih sayang, interdependency – silih asih asah dan silih asuh yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan sosial (membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam pera ngainya (Citarum). Sementara itu keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego Rasio sendiri (pembuatan perahu). Keberadaan Sang Ego Rasio itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (Bukit Tunggul, pohon sajaratun) sejak dari awal keberada-annya (timur, tempat awal terbit kehidupan). Sang Ego Rasio pun harus pula menunjukkan keberadaan dirinya (tutunggul, penada diri) dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai ke turunan yang terwujud dalam masyarakat yang akan datang dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (gunung Burangrang).

Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (boeh rarang atau kain kafan). Akhir nya suratan takdir yang menimpa Sang Ego Rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada diri nya. Maka ditendangnya keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia transendental tertelungkup meratapi kema langan yang menimpa dirinya (Gunung Tangkuban parahu).

Walau demikian lantaran sang Ego Rasio masih merasa pena saran, dikejarnya terus Sang Nurani yang tercerahkan dam baan dirinya (Dayang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani. Tetapi ternyata Sang Nurani yang tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan di alami Sang Ego Rasio (bunga Jaksi).

Akhir kisah yaitu ketika datangnya kesadaran berakhirnya kepongahan rasionya (Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat dominasi keangku han rasio (gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapapun (Sanghyang Tikoro atau tenggorokan; bahasa Sunda: ''Hade ku omong goreng ku omong''). Dan dengan cermat dijaga be nar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu yang halal bersih dan bermanfaat.



PERAN DAYANG SUMBI DAN SANGKURIANG DALAM KONSEP BUDAYA SUNDA


(Kajian Hermeneutika terhadap Legenda dan Mitos Gunung Tangkubanparahu dengan segala aspeknya)


Oleh : Hidayat Suryalaga

(Legenda tentang terjadinya Gunung Tangkubanparahu sangat dikenal di Tatar Sunda, disebut pula sebagai sasakala terjadinya Talaga Bandung atau dongeng Sangkuriang. Adapun tokoh Dayang Sumbi yang seharusnya menjadi esensi maknawi dalam mitos ini sering tersisihkan oleh peran Sangkuriang – puteranya. Wacana yang tersaji kali ini adalah upaya untuk mengarifi nilai-nilai mitos yang terkandung dalam legenda gunung Tangkubanparahu, sehingga mempunyai nilai tambah bagi pemaknaan kita terhadap wawasan budaya lokal)


MITOS SEBAGAI ACUAN PANDANGAN HIDUP

Berbincang tentang mitos akan berkaitan erat dengan legenda, cerita, dongeng semuanya termasuk kelompok folklore. Mengenai mithos C.A.van Peursen (1992:37) mengatakan sebagai sebuah cerita (lisan) yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Inti dari mitos adalah lambang-lambang yang menginformasikan pengalaman manusia purba tentang kebaikan-kejahatan, perkawinan dan kesuburan, dosa dan proses katarsisnya. Sedangkan Rene Wellek & Austin Warren (1989) menyebutnya sebagai cerita anonim mengenai penjelasan tentang asal mula sesuatu, nasib manusia, tingkah laku dan tujuan hidup manusia serta menjadi alat pendidikan moral bagi masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.

Mengacu kepada pendapat di atas, ternyata mitos yang dikandung dalam legenda adalah sumber pengetahuan mengenai kehidupan manusia pada masa lampau dalam segala aspeknya. Disusun dalam bentuk cerita sastra (sastra lisan) sebagai alat transformasinya; sebab bentuk cerita lisan mempunyai pola struktur dan alur yang cukup ajeg. dalam menuntun ingatan orang sehingga mudah untuk seseorang menuturkannya kembali.


HERMENEUTIKA ILMU TENTANG PENAFSIRAN

Kegiatan manusia tidak terlepas dari kemampuan untuk menafsirkan terhadap apa pun yang dialaminya. Hasilnya adalah didapatkannya arti dan makna dari yang ditafsirkannya. Arti adalah hubungan antara sesuatu dengan yang melingkunginya, hubungan teks dengan konteks (Saini KM, 2004). Adapun makna adalah hubungan arti dengan nilai esensial yang dikandungnya.

Kemampuan mengartikan dan memaknai sesuatu, dalam budaya Sunda disebut dengan kemampuan memanfaatkan Panca Curiga (lima senjata/ilmu), yaitu kemampuan untuk menafsirkan secara: silib, yaitu memaknai sesuatu yang dikatakan tidak langsung tetapi dikiaskan pada hal lain (allude); sindir yaitu penggunaan susunan kalimat yang berbeda (allusion); simbul yaitu penggunaan dalam bentuk lambang (symbol, icon, heraldica); siloka adalah penyampaian dalam bentuk pengandaian atau gambaran yang berbeda (aphorisma) dan sasmita adalah berkaitan dengan suasana dan perasaan hati (depth aporisma).

Dalam tulisan ini pun penulis menggunakan konsep hermeneutika (panca curiga) untuk mencoba menarik arti dan makna yang dikandung dalam legenda Gunung Tangkubanparahu dengan segala aspek yang dikandungnya.

Kaidah lain untuk melakukan analisis, penulis memanfaatkan leksikografi (cara menuliskan kata); etimologi (tentang asal-usul kata), semantik (tentang arti kata) dan semiotika ( tentang arti dan makna lambang).


BEBERAPA KARYA SASTRA YANG BERTEMAKAN LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU

Legenda Gunung Tangkubanparahu dengan tokoh-tokohnya telah mengilhami para sastrawan dan seniman untuk mewujudkannya dalam karyanya seperti dalam:

◦ Bentuk Cerita : Sang Koeriang, AC.Deenik diambil dari Pleyte. Tt. – Gunung Tangkuban Parahu, R. Satjadibrata, 1946. – Babad Sangkuriang dalam Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, Edi S. Ekadjati, 1983

◦ Bentuk Sajak : Sangkuriang, Hasan Wahyu Atmakusumah, 1955. – Sang Kuriang, Kusnadi Prawirasumantri, 1992. – Ngabendung Situ, Ajip Rosidi, 1962. – Sang Kuriang, Beni Setia, 1972. – Tapak Sangkuriang, Dadan Bahtera, 1989.- Sangkuriang Kabeurangan, Wahyu Wibisana, 1992

◦ Bentuk Drama : Sangkuriang. Tatang R. Sontany. Th 2004 dipagelarkan oleh STTB di Gedung Rumentang Siang. Bandung.

◦ Bentuk Gending Karesmen (opera):. Sangkuriang, RTA. Sunarya. Tt. Sangkuriang Larung, Hidayat Suryalaga,1973

◦ Bentuk Skripsi : Pergeseran Fungsi Mitos Sangkuriang dari Cerita Sangkuriang ke dalam Sajak Sunda, Suhandi. Fakultas Sastra Unpad. 1994.

◦ Bentuk Seni Vokal ; Keroncong Sangkuriang, Tt.

◦ Bentuk Lukisan : Djajasupena, Tt

Data yang tertulis di atas sebatas yang penulis sempat ketahui, tentu masih bertebaran wacana dan aspek folklorik lainnya yang berhubungan dengan legenda Tangkubanparahu dan Dayang Sumbi.

Semua karya seni dan sastra di atas tidaklah sama dalam mengartikan dan memaknai legenda Tangkubanparahu atau tokoh pemerannya. Bergantung kepada konsep hermeunetika yang diacu oleh penulisnya. Walau demikian alur ceritanya tidak banyak berubah.

Secara singkat alur ceritanya sebagai berikut:

Raja SUNGGING PERBANGKARA pergi berburu, di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun “CARIANG” (keladi hutan).

Seekor babi hutan betina bernama WAYUNGYANG yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik.

Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama DAYANG SUMBI alias RARASATI. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu si TUMANG.

Ketika sedang asyik bertenun, TOROPONG (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama SANGKURIANG.

Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya.

Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta KEPALA Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka.

Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah TIMUR akhirnya sampailah di arah BARAT lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya.

Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya.

Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan PERAHU dan TALAGA (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai CITARUM. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah PERAHU dari sebuah pohon yang tumbuh di arah TIMUR, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung BUKIT TUNGGUL. Rantingnya ditumpukkan di sebelah BARAT dan mejadi Gunung BURANGRANG.

Dengan bantuan para GURIANG, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan BOEH RARANG (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur.

Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di SANGHYANG TIKORO dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung MANGLAYANG.

Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi GUNUNG TANGKUBANPARAHU.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di GUNUNG PUTRI dan berubah menjadi setangkai BUNGA JAKSI.

Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan UJUNGBERUNG akhirnya menghilang ke alam gaib (Ngahiyang).


ARTI SERTA MAKNA LEGENDA GUNUNG TANGKUBAN PARAHU DENGAN SEGALA ASPEK YANG DIKANDUNGNYA


Seperti pada awal tulisan, bahwa legenda bukanlah kisah historis (a-historis), tetapi berupa mitos yang menjadi acuan hidup masyarakat pendukung kebudayaannya. Demikian pula yang terjadi pada legenda Gunung Tangkubanparahu. Di bawah ini saya susun kembali nama dan tempat serta aspek lainnya yang terdapat dalam legenda tsb. sebagai kata kunci heurmanetika, yaitu:

– Sungging Perbangkara,
– cariang
– babi hutan Si Wayungyang,
– Dayang Sumbi atau Rarasati,
– anjing Si Tumang,
– Sangkuriang,
– taropong (torak),
– Wetan (Timur)
– Kulon (Barat)
– Citarum,
– Sanghyang Tikoro,
– Guriang
– Gunung Putri,
– Gunung Manglayang,
– Ujungberung,
– kembang Jaksi,
– boeh rarang,
– Gunung Bukit Tungggul,
– Gunung Burangrang
– Gunung Tangkuban Parahu, dan
– Talaga Bandung.

Telah disinggung di atas, bahwa banyak penulis yang memberi arti dan makna terhadap legenda ini. Pada kesempatan sekarang penulis mencoba untuk membuat penafsiran arti dan makna menurut konsep nilai-nilai intrinsik pandangan hidup “urang Sunda” yang terkandung dalam alur cerita dan arti-makna dari setiap kata-kata kunci. Pemaknaan ini pun telah dikaji-banding dengan nilai-nilai intrinsik yang terkandung dalam cerita lama (pantun) yang dianggap sakral yaitu Cerita Pantun Lutung Kasarung dan Mundinglaya di Kusumah. Di bawah ini disertakan deskripsi mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan legenda Gunung Tangkubanparahu :

- Untuk Kata SUNGGING PERBANGKARA. Artinya : Sungging => ukiran, ornamen. Perbangkara (Prabhangkara) = Prabha = cahaya. => ‘ng = > sang => penanda hormat, honorifik. => kara => matahari. Maknanya “Penanda dari kebaikan/ kebenaran sebagai cahaya pencerahan bagi yang menyimaknya”

- Untuk kata CARIANG. Artinya: pohon keladi hutan (taleus leuweung) yang tumbuh subur dan bergetah sangat gatal. Maknanya: Manusia-manusia yang hidup di tengah hutan kehidupan dengan bermacam dorongan nafsunya.

- Untuk Kata Babi hutan WAYUNGYANG. Artinya: Wayungyang => w(b)ayeungyang = perasaan yang tidak tenteram, gundah gula. Maknanya: Seseorang yang masih berada dalam sifat kehewanan tetapi telah mulai bimbang dan menginginkan menjadi seorang manusia seutuhnya (berperi-kemanusiaan).

- Untuk Kata DAYANG SUMBI (DANGHYANG). Artinya : => Dang => penanda hormat, honorific. Yang => Hyang = gaib. => Sumbi => 1) tendok => alat untuk menusuk hidung kerbau agar menurut. 2) Bagian ujung terdepan dari perahu sebagai penunjuk arah dalam berlayar agar tidak rersesat. Maknanya: Fitrah manusia yang bersifat gaibiah yang memberi petunjuk dan kendali dalam menentukan arah kehidupan. Bisa dimaknai pula sebagai kata hati, nurani yang mendapat pencerahan hidayah Allah Swt.

- Untuk kata RARASATI nama lain dari Dayang Sumbi. Artinya : 1) => Raras = perasaan yang sangat halus. => ati = hati, qalbu. Maknanya: Raras Ati = Hati atau qalbu yang penuh dengan kehalusan budi karena mendapat pancaran sinar Ilahi. 2) Rara = gadis => sati (santa) = suci, pengorbanan, tenang. Maknanya: Rara Sati = Kesucian yang tenang penuh pengorbanan.

- Untuk Kata Si TUMANG. Artinya: => tumang = 1) Peti yang tertutup (b. Kawi), 2) mangmang => sumpah (b.Kawi) tu-mang-mang => orang yang terkena sumpah karena waswas. Maknanya: karakter seseorang yang selalu asal bersumpah, waswas, akhirnya termakan sumpahnya sendiri, hatinya seperti peti yang tertutup rapat tidak mendapat pencerahan.

- Untuk Kata SANGKURIANG. Artinya: => 1) Sang = penanda hormat, honorifik. => Kuriang => kuring = saya, ego. 2) Sang => penanda hormat, honorific. => Kuriang => guru + hyang = ego yang gaib. Maknanya: Sangkuriang = Jiwa (ego) non material yang menjadi dasar tumbuhnya kesadaran mental manusia yang selalu mendapat cobaan dan ujian kualitas dirinya.

- Untuk kata TAROPONG. Artinya : 1) Alat bertenun dari sepotong bambu kecil (tamiang) tempat benang pakan (torak); 2) Alat untuk melihat sesuatu agar lebih jelas (teropong). Maknanya: Kegiatan (semangat) manusia dalam menata perilaku kehidupan agar terusun tertib sesuai dengan kualitas dirinya serta mampu melihat dengan jelas alur (visi) kehidupannya.

- Untuk kata WETAN . Artinya : timur, tempat matahari terbit; wetan => wiwitan => asal mula, harapan. Maknanya : Menuju ke wetan (timur) , mencari yang diharapkan yang dicarinya sejak awal mula keberadaan manusia.

- Untuk kata KULON => kulwan . Artinya : Barat, tempat matahari tenggelam. Maknanya : Sampai di arah barat = sampai di batas waktu, waktu terakhir, akhir kehidupan

- Untuk kata Sungai CITARUM. Artinya: => Ci => Cai = Air. => Tarum = sejenis tumbuhan, daunnya untuk memberi warna indigo tua (hampir hitam) pada kain/benang tenun. Maknanya: Kehidupan adalah seperti air mengalir dalam perjalanannya akan mengalami beragam celupan kehidupan, kebahagiaan, keprihatinan dan juga hal-hal negatif lainnya sebagai ujian keteguhan hatinya.

- Untuk kata SANGHYANG TIKORO. Artinya: => Sang = penanda hormat, honorifik. => Hyang => gaib. =>Tikoro = saluran di leher untuk bernafas dan berbicara (tenggorokan) atau saluran di leher untuk makan (kerongkongan). Maknanya: Kemampuan manusia dalam berbicara tentang apa pun yang baik atau pun yang jelek serta sering dilalui makanan entah yang halal atau yang haram.

- Untuk kata GURIANG Artinya => Guru => Yang memberi petunjuk, ilmu; => hyang = gaib. Maknanya : Guriang => orang yang mengajari ilmu pengetahuan, fasilitator.

- Untuk kata GUNUNG PUTRI. Artinya => Putri => gadis, wanita cantik jelita, bangsawan. Maknanya: Karakter manusia yang dihiasi nilai keindahan dan cinta kasih. Dimaknai sebagai sifat kewanitaan (feminim, jamalliyah, cinta kasih yang rohimmi) yang penuh rasa kasih sayang.

- Untuk kata GUNUNG MANGLAYANG. Artinya: => Manglayang = 1) ngalayang, melayang. 2) Mang-layang => palayangan = Saluran untuk pembuangan air kolam/talaga. Maknanya : Kemampuan manusia untuk menguras dan membersihkan dirinya dari karakter yang kotor.

- Untuk kata Kembang JAKSI . Artinya: 1) Jaksi => bisa dimaknai jadi + saksi . Maknanya : 1) Segala sesuatu yang dikerjakan seseorang akhirnya akan menjadi saksi pula bagi dirinya. 2) Jaksi = bunga sejenis pohon pandan. Maknanya: Kesesuaian antara itikad/niat – ucapan dan perbuatan (B.S: tekad – ucap – lampah)

- Untuk kata UJUNGBERUNG. Artinya: => Ujung => Akhir. => Berung => ngaberung = menurutkan hawa nafsu. Maknanya:Berakhirnya gejolak hawa nafsu yang negatif.

- Untuk kata BO’EH RARANG. Artinya : => Bo’eh => kain kafan. => rarang = suci, mahal. Maknanya: Semuanya akan berakhir bila satu saat mau tidak mau harus memakai kain kafan yang suci, yaitu datangnya waktu kematian mungkin secara fisik atau secara psikis.

- Untuk kata Gunung BUKIT TUNGGUL. Artinya : 1) => Bukit = Bentuk gunung yang lebih kecil. => Tunggul = pokok pohon. Maknanya: Siapapun orangnya, kaya-miskin, pembesar atau pun rakyat kecil semuanya mempunyai pokok sejarah dirinya (leluhur). 2) Tunggul => tutunggul => Batu nisan. Maknanya setiap orang mempunyai penanda jati dirinya, tentang apa dan siapa dirinya.

- Untuk kata Gunung BURANGRANG. Artinya => Burangrang => Bukit + rangrang. => rangrang = ranting. Maknanya : Siapa pun orangnya tetap akhirnya akan ada sangkut pautnya dengan keturunan dan masyarakat yad. yang pada gilirannya semuanya akan hilang ditelan masa (B.S ngarangrangan).

- Untuk kata Gunung TANGKUBANPARAHU. Artinya: => Tangkuban => tertelungkup, menelungkup. => Parahu = perahu. => Gunung Tangkubanparahu => gunung yang bentuknya seperti perahu yang tertelungkup. Maknanya : Dalam kosmologi Sunda, gunung dimaknai sebagai tubuh manusia. Gunung Tangkubanparahu dimaknai sebagai manusia yang sedang menelungkupkan dirinya dan itu menandakan suasana hati yang sedang bingung penuh penyesalan.

- Untuk kata TALAGA BANDUNG. Artinya: => talaga = danau., dimaknai sebagai kehidupan di dunia ini, => bandung = 1) dua buah perahu atau dua buah rakit yang disatukan dan di atasnya dibuat tempat berteduh. 2) bandung => bandung + an = memperhatikan, menyimak => silih bandungan – saling memperhatikan dengan penuh perhatian.. Maknanya: => Talaga Bandung => Dalam kehidupan di dunia ini, kita ibarat perahu yang dirakit berpasangan dengan sesama makhluk lain, seyogyanya dapat membangun kehidupan bersama, kesalihan sosial, yaitu kehidupan yang saling memperhatikan, silih asih, silih asah dan silih asuh, interdependency (saling ketergantungan yang harmonis), equaliter (setara di depan hukum) dan egaliter (setara di dalam kehidupan)

 
KESIMPULAN YANG BISA KITA MAKNAI

Bila kita runut seluruh informasi di atas, maka akan ditemukan alur kearifan pandangan hidup masyarakat Sunda yang terkandung dalam legenda Gunung Tangkubanparahu. Kearifan yang dibungkus dengan cerita legenda ini dapat menjadi acuan hidup bagi siapa pun dalam melayari keberadaannya baik secara manusia lahiriah (fisik) maupun manusia transendental (ruhi). Di bawah ini dirangkai kembali secara ringkas alur legenda tsb. semoga dapat memperjelas arti dan makna yang dikandungnya :

Esensi legenda atau sasakala Gunung Tangkubanparahu dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (= Sungging Perbangkara) bagi siapa pun manusianya (= tumbuhan cariang) yang masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan menemukan jatidiri kemanusiannya ( = Wayungyang). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (= Dayang Sumbi, Rarasati). Tetapi bila tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (= taropong), maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus menerus (= digagahi si Tumang) yang akan melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu jiwa yang belum tercerahkan (= Sangkuriang). Ketika Sang Nurani termakan lagi oleh kewaswasan (= Dayang Sumbi memakan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran yang hakiki. Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio Sang Ego (= kepala Sangkuriang dipukul). Kesombongannya pula yang mempengaruhi “Sang Ego Rasio” untuk menjauhi dan meninggalkan Sang Nurani. Ternyata keangkuhan Sang Ego Rasio yang berlelah-lelah mencari ilmu (kecerdasan intelektual) selama pengembaraannya di dunia (menuju ke arah Timur). Pada ahirnya kembali ke Barat yang secara sadar maupun tidak sadar selalu dicari dan dirindukannya yaitu Sang Nurani (= Pertemuan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).

Walau demikian ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (= Sangkuriang) dengan Sang Nurani yang tercerahkan (= Dayang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan.Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya Sang Ego Rasio (= Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependency – silih asih-asah dan silih asuh yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan sosial (= membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam perangainya (= Citarum). Sementara itu keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego Rasio sendiri (= pembuatan perahu). Keberadaan Sang Ego Rasio itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (=Bukit Tunggul, pohon sajaratun) sejak dari awal keberada-annya (= Timur, tempat awal terbit kehidupan). Sang Ego Rasio pun harus pula menunjukkan keberadaan dirinya (tutunggul, penada diri) dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yad. dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (= gunung Burangrang).

Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (= bo’eh rarang = kain kafan). Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego Rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada “dirinya”. Maka ditendangnya keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia transendental tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (= Gunung Tangkubanparahu). Walau demikian lantaran sang Ego Rasio masih merasa penasaran, dikejarnya terus Sang Nurani yang tercerahkan dambaan dirinya ( =Dayang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani. Tetapi ternyata Sang Nurani yang tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego Rasio (= bunga Jaksi).

Akhir kisah yaitu ketika datangnya kesadaran berakhirnya kepongahan rasionya (= Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat dominasi keangkuhan rasio (= gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (= Sanghyang Tikoro = tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong). Dan dengan cermat dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu yang halal bersih dan bermanfaat. (= Sanghyang Tikoro = kerongkongan, genggerong).


AKHIR WACANA


Seperti ditulis pada awal wacana, Hermeunetika adalah ilmu menafsirkan tentang sesuatu agar mempunyai arti dan makna, sehingga dapat dipetik manfaatnya. Karena itu sangat bersifat subyektif dan inklusif, tetap terbuka bagi siapa pun untuk memasukkan tafsirannya secara pribadi. Boleh-boleh saja dan itu akan besar manfaatnya dalam membentuk masyarakat bermartabat yang madani mardotillah. Mungkin perlu ada kesepakatan bersama yaitu mengenai Visi akhir yang ingin dicapai dari pemaknaan heumanetika tsb, yaitu kesadaran untuk menampakkan kandungan MORAL/AKLHLAK kemanusiaannya. Humisnis yang religius. Itulah dasar kesepakatan para penafisr nilai moral budaya bangsa yang terkandung dalam folkolor/folkway.

Internalisasi filosofi dari Yayasan Pendidikan Dayang Sumbi yang memayungi ITENAS yaitu menuntun dan memberi arah yang benar (visioner) kepada Civitas Akademika ITENAS. Sehingga mahasiswa lulusannya menjadi “Sangkuriang – Sangkuriang” yang mampu menyeimbangkan antara aspek IQ (Luhung Elmuna) – EQ (Jembar Budayana) dan SQ (Pengkuh Agamana), untuk bersinerji dalam AQ (Actional Quotient = Rancage Gawena, terampil, beretos kerja) Capaian akhir adalah terwujudnya Manusia Seutuhnya, Manusia yang seimbang Rasio dan Nuraninya, Insan Kamil wa Mukamil, Manusa anu Manggapulia, Insan yang Rakhmatan lil ‘Alamin. Yaitu manusia yang “cageur, bageur, bener, pinter, singer, teger, pangger, wanter dan cangker”

Insya Allah.

Bandung, 28 Mei 2005, 2008

Disampaikan pada orasi Ilmiah ketika Hari Wisuda Mahasiswa ITENAS, 28 Mei 2005 di Bandung.

*) Penulis adalah Nara Sumber Lembaga Budaya Universitas Pasundan Nara sumber di http://www.sundaNet.com.

==============
Buku Pendamping :
– Ajip Rosidi. 1961. Sang Kuriang Kesiangan. Bandung: Tiara.
– Cassirer, Ernst.1990. Manusia dan Kebudayaan. Terjemah Alois A. Nugroho. Jakarta: Gramedia.
– Danandjaja, James. 1986. Folkor Indonesia. Jakarta: Pustaka Grafiti Press.
– Ekajati, Edi, S. 1983. Naskah Sunda Lama Kelompok Babad. Bandung : Depdikbud
– Hidayat Suryalaga. 1996. Racikan Budaya Sunda. Depdikbud Prop, Jabar.
– Peursen, CA. van. 1992. Strategi Kebudayaan. Terjemah Dick Hartoko.
– Satjadibrata, R. 1946. Dongeng-dongeng Sasakala. Jakarta: Balai Pustaka.
– Sunarya,RTA. Tt. Sangkuriang. Jakarta: Timun Mas
– Wahyu Wibisana. 1992. Sangkuriang Kabeurangan. Bandung: Mangle No. 1373.
– Wellek, Rene & Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Terjemah: Melani Budianta. Jakarta : Gramedia.

Kamus:
– Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda Abad 11 s.d.. 18, editor: Prof.Dr. H. Edi S. Ekadjati.. Edisi 2001.
– Kamus Kawi- Indonesia , Prof. Drs. S. Woyowasito. CV. Pengarang, 1977.
– Kamus Umum Basa Sunda, LBSS. Tarate, 1975.

Baca Juga :

Tidak ada komentar