Makam Mbah Beureum Di Desa Cibeureum Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang

Berkaitan dengan namanya, menurut Kampung Halaman, nama Desa Cibeureum diambil dari nama seorang leluhur yang bernama Mbah Beureum alias Mbah Raksabaya. 

Sementara menurut cutatan Lies Ganesti, nama Cibeureum sendiri merupakan nama sebuah kampung. Pemberian nama Cibeureum dikaitkan dengan perjalanan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda. Ketika penjajah Belanda sampai ke wilayah Cimalaka, tentara Indonesia yang berada di wilayah ini tidak mau mundur. Mereka melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda walaupun kalah dalam hal persenjataannya. Dengan dibantu oleh penduduk setempat mereka mempertahankan wilayah ini. Penjajah Belanda melalukan serangnya dari sekitaran sungai yang berada di wilayah ini. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam menghanyutkan mayat yang gugur dalam peperangannya. 

Hasilnya, ketika banyak yang gugur kemudian dihanyutkan ke sungai. Saking banyaknya yang gugur dan dihanyutkan di sungai ini, menyebabkan air sungai berubah warna menjadi warna merah. Dari peristiwa inilah, kemudian kampung yang berada di sekitaran tempat kejadian diberi nama Cibeureum.

Makam Mbah Beureum berlokasi di Dusun Sukakarya RT.02/RW01 Desa Cibeureum Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang, nisan makam Mbah beureum ditandai dengan batu kali biasa, dan jirat makamnya telah diperbaiki dengan pasangan tembok di keramik. Tepat makam mbah Beureum, terdapat pohon beringin besar yang cukup tua usianya dan di belakang samping kirinya ada 2 makam lainnya.



Menurut cerita sesepuh di sana, nama Desa Cibeureum, nama desa ini diambil dari nama seorang  Mbah Beureum ini  alias Mbah Raksabaya..

Pemberian nama Cibeureum dikaitkan dengan perjalanan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia ketika melawan penjajah Belanda. Ketika penjajah Belanda sampai ke wilayah Cimalaka, tentara Indonesia yang berada di wilayah ini tidak mau mundur, Mereka melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda walaupun kalah dalam hal persenjataan, dengan dibantu oleh penduduk setempat mereka mempertahankan wilayah ini.

Penjajah Belanda melakukan serangannya dari sekitar sungai yang berada di wilayah ini, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam menghanyutkan mayat yang gugur dalam peperangannya, sehingga dengan banyaknya yang gugur dan dihanyutkan di sungai ini, menyebabkan air sungai berubah warna menjadi warna merah.

Dari peristiwa inilah kemudian kampung yang berada di sekitar tempat kejadian tersebut diberi nama Cibeureum yang artinya air berwarna merah, namun tahun berapa kejadiannya tidak disebutkan.

Sementara keterangan dari Hadibar Naledra, Mbah Beureum alias Mbah Raksabaya ini, nama aslinya adalah Raden Sumantadipura (Mbah Saer),  salah seorang putranya Raden Surapradja (Buyut Mandor Sura) yang berasal Kampung Ciwangi Desa Cibogo Kecamatan Darmaraja Kabupatén Sumedang. Dan keturunan dari Raden Sumantadipura ini adalah Buyut Kariman (Buyut Kendong) di Cibogo Dua Kecamatan Darmaraja Kabupaten Sumedang. 

Adapun silsilahnya adalah sebagai berikut :  

KETURUNAN PANGERAN BANGSIT 

Generasi Ke 1
Menurut naskah carita Ratu Di Pakuan, pada zaman dahulu Prabu Sribaduga Jaya Dewata atau Prabu Siliwangi, di samping "permaisuri" (garwa padmi), mempunyai banyak istri yang disebut "selir" (garwa ampil). Menurut naskah tersebut salah satu permasuri itu berasal dari Kerajaan Sumedang Larang yaitu Ratu Raja Mantri atau Ratu Ratnasih  (Dalam Babon Pramunggu Wado namanya Ratna Manintjang Aris Kembang)mempunyai anak salah satunya :
1. Rd. Meumeut alais Rd. Cameut (Buyut Nyata)


Generasi Ke 2
1. Rd. Meumeut atau Rd. Cameut (Buyut Nyata)  x Nyimas Mala Rokaya, putra dari Anta Wahabu dan Nyimas Holi asal dari Talaga, mempunyai anak :
1.1. Rd. Hasata (Sunan Pada)
1.2. Nyi. Rd. Romlah Karomah
1.3. Nyi. Rd. Huspita 


Generasi Ke 3
1.1. Rd. Hasata (Sunan Pada) x Nyi Rd. Aisyah, putra dari Rd. Sarifudin dan Nyimas Sari Asih asal Talaga, mempunyai anak :
1.1.1. Pangeran Bangsit, menurunkan keturunan di Pawenang Wado
1.1.2. Nyimas Rd. Sari Hati (Ratu Cukang Gedeng Waru), yang diperisteri  oleh Prabu Geusan Ulun (merger dengan keturunan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umum Sumedang atau Ratu Inten Dewata (Ratu Satyasih).
1.1.3. Nyimas Gedeng Sari (tidak terdata keturunannya).
1.1.4. Nyimas Gedeng Tomo (tidak terdata keturunannya).
1.1.5. Rd. Absoha, yang mempeisteri Nyi Solimah dan Nyi Siti Ningrum (asal Rajagaluh Jatiwangi).


Generasi Ke 4
1.1.1. Pangeran Bangsitmempunyai anak :
1.1.1.1. Pangeran Jaya Kusumah, yang dimakamkan di Gunung Paneguh Cikareo.


Generasi Ke 5
1.1.1.1. Pangeran Jaya Kusumahmempunyai anak :
1.1.1.1.1. Rd. Ayoe Lintang Loemayoeng, yang ditikah oleh putranya Sultan Sepuh Cirebon dan   dimakamkan di Karang Nunggal Tasikmalaya (tidak berputra).
1.1.1.1.2. Rd. Aria Satjagati, yang dimakamkam di Kuta Pada (Putrapada) Desa Sirnasari dan menurunkan ke Tarikolot Wado.
1.1.1.1.3. Rd. Aria Sacanagara, yang dimakamkam di Gunung Mogana Cigondok Dusun Ganjar Resik, Desa Tarikolot, dan menurunkan keturunan di Desa Cimungkal.
1.1.1.1.4. Rd. Soetadinata (Dalem Aria Soetanagara), yang dimakamkan di Gunung Gagak Jalu / Gagaksangkur Sundulan Desa Padajaya, dan menurunkan keturunan di Buah Ngariung Sundulan Desa Mekarjaya.
1.1.1.1.5. Rd. Wangsa Dinaya (Dalem Aria Wangsadisoeta), yang dimakamkan di Cigangsa (Desa Pawenang), dan menurunkan keturunan di Pawenang 
1.1.1.1.6. Rd. Aria Nanggadisoeta (Dalem Aria Nanggadisoeta), yang dimakamkan di gunung Cengkok desa Mulyajaya, dan menurunkan di Pawenang Wado.


Generasi Ke 6
1.1.1.1.4. Rd. Soetadinatamempunyai anak :
1.1.1.1.4.1. Raden Dipasinga, yang pernah menjadi komandan pasukan pemerintah di bawah pimpinan Pangeran Kornel angeran Kusumadinata XI, bupati Sumedang tahun 1791-1828 pada waktu menumpas pemberontakan Bagoes Rangin di Bantarjati (Jatitujuh).

1.1.1.1.5. Rd. Wangsa Dinayamempunyai anak :
1.1.1.1.5.1. Rd. Nata Koesoemah, Cutak Pawenang dimakamkan di Makam Cigangsa 


Generasi Ke 7
1.1.1.1.4.1. Raden Dipasingamempunyai anak :
1.1.1.1.3.1.1 Raden Dipalaksana

1.1.1.1.5.1. Rd. Nata Koesoemah, mempunyai anak :
1.1.1.1.5.1.1. Nyi. Rd. Nata Inten 
1.1.1.1.5.1.2. Rd. Rahlan Wigena
1.1.1.1.5.1.3. Rd. Wangsa Dimadja.
1.1.1.1.5.1.4. Rd. Raksa Dijaya.


Generasi Ke 8
1.1.1.1.4.1.1. Raden Dipalaksanamempunyai anak :
1.1.1.1.4.1.1.1. Raden Dipakerta

1.1.1.1.1.1.5.1.1 Nyi Rd. Nata Inten ditikah oleh putra Pangeran Rangga Gede Sumedang, dimakamkan di Makam Cigangsa, mempunyai anak :
1.1.5.1.1.1.  Rd. Muhammad Aliyan


Generasi Ke 9
1.1.1.1.4.1.1.1. Raden Dipakerta, berputra :
1.1.1.1.4.1.1.1.1. Raden Soeradinata 
1.1.1.1.4.1.1.1.2. Raden Soeranata
1.1.1.1.4.1.1.1.3. Raden Soerapradja, makam Raden Soerapradja (Buyut Mandor Sura), dan makam Eyang Kasinten. Dua makam tersebut berada di lokasi kampung Ciwangi Desa Cibogo Kecamatan Darmaraja kabupatén Sumedang.
1.1.1.1.4.1.1.1.4. Raden Djarim

1.1.1.1.5.1.1.1.  Rd. Muhammad Aliyam (Uyut Alin), mempunyai anak :
1.1.1.1.5.1.1.1.1. Rd. Natamulya
1.1.1.1.5.1.1.1.2. Rd. Mumadjah (tidak berputra)
1.1.1.1.5.1.1.1.3. Rd. Muhamad Harun Alihasan
1.1.1.1.5.1.1.1.4. Rd. Uud
1.1.1.1.5.1.1.1.5. Nyi Rd. Suarnah
1.1.1.1.5.1.1.1.6. Rd. Umal Kusen Mintapradja 

Generasi Ke 10
1.1.1.1.4.1.1.1.3. Raden Soerapradja, 
1.1.1.1.4.1.1.1.3.1 Rd. Sumantadipura (Embah Saer) Di Cibeureum Sumedang, 
keturunanmya diantaranya Buyut Kariman (Buyut Kendong) Di Cibogo Dua.
1.1.1.1.4.1.1.1.3.2 Rd. Soeradirana (Embah Bangkit) Di Ciwangi 

1.1.1.1.4.1.1.1.4. Raden Djarim (Embah Jambrong), mempunyai anak :
1.1.1.1.4.1.1.1.4.1. Raden Mardja’in Soerapradja
1.1.1.1.4.1.1.1.4.2. Raden Soerakaria,
1.1.1.1.4.1.1.1.4.3. Raden Soeradinata (Embah Mandor Soera)
1.1.1.1.4.1.1.1.4.4. Raden Hadji Abdoel Gaos.


Generasi Ke 11
1.1.1.1.4.1.1.1.3.1 Rd. Sumantadipura (Embah Saer)
keturunanmya diantaranya Buyut Kariman (Buyut Kendong) Di Cibogo Dua.

Salam Santun.

Sumber :
- Buku Catatan Keturunan Sumedang dari Musium Srimanganti.
- Buku Silsilah Jati Sampurna Sumedang.
- Catatan Silsilah Keturunan Pramoenggoe Wado, jika ada yang membutuhkan data ini saya mempunyai data tertulisnya namun tidak tersusun, susah dicernanya.

Baca Juga :

Tidak ada komentar