Siapakah Ki Balangantrang



Balangantrang Sang Senapati


Dalam catatan sejarah lisan maupun resmi, Aki Balangantrang merupakan nama lain dari Bimaraksa, senapati sekaligus Mahapatih Galuh dimasa pemerintahan Purbasora. Didalam paradigma sejarawan sunda, Bimaraksa dikatagorikan sebagai patriot Galuh. Ia terlibat langsung dalam epos perjuangan Galuh melawan kerajaan sundapura.

Perlu ada semacam penekan tentang istilah “Kerajaan Sunda” yang dimaksud dalam cerita ini, bukan suku atau etnis, atau Geografis, (mengenal sunda besar dan sunda kecil ; selat sunda dll) melainkan “Sundapura” nama negara kecil yang dijadikan lokasi penerus pemerintahan kerajaan Tarumanagara, Karena Tarumanagara pamornya merosot maka Terusbawa, menantu Linggawarman (wafat 669 M) menganggap perlu untuk mengalihkan pusat pemerintahan Tarumanaga ke Sundapura (670 M).

Terusbawa sebelum menggantikan Linggawarman sebagai raja Tarumanaga adalah raja di Sundapura. Posisi Sundapura sebelumnya merupakan salah satu kerajaan kecil dibawah kekuaasaan Tarumanagara, sama halnya dengan Galuh dan kerajaan kecil lainnya (+ 46 negara).

Pemindahan pusat pemerintahan dan penggantian nama dari Tarumanagara menjadi Sundapura (670 M), memicu Wretikandayun untuk memisahkan Galuh dan Negara-negara kecil disekitarnya dari Sundapura.

Namun Terusbawa menyadari posisinya dan memilih jalan damai, maka Galuh didiamkan untuk bediri sendiri lepas dari Kerjaan Sundapura. Mengenai batas wilayah Galuh dan Sundapura disepakati dibatasi oleh Sungai Citarum. Galuh kemudian dikenal pula dengan sebutan Parahiyangan.

Jika dilihat dari batas Kerajaan Tarumanagara yang mendasarkan pada catatan sejarah jawa barat, pada saat Purnawarman Wafat, terdapat 46 kerajaan yang ada dibawahnya. Istilah “tungtung sunda” dalam peta Indonesia sekarang dapat meliputi Selat Sunda dengan Kali Serayu di Jawa Tengah bagian selatan dan Kali Brebes (Cipamali) di Jawa Tengah bagian utara.



Peranan Mahapatih Bimaraksa

Peranan Ki Balangantrang dalam sejarah lisan lebih dikenal melalui cerita Ciung Wanara, berperan sebagai pengasuh Ciung Wanara. Dikisahkan pasangan Aki dan Nini Balangantrang telah lama merindukan seorang anak, hingga suatu malam ia bermimpi kejatuhan bulan. Mimpi itupun ditafsirkan, : ia akan menerima rejeki. Malam itu juga Aki Balangantrang membawa kecrikan (jala penangkapan ikan) kesungai Citanduy.

Betapa gembiranya Aki Balangantrang menemukan ranjang emas yang isinya sesosok bayi mungil, ditemani sebutir telur ayam. Bayipun dirawat hingga dewasa dan diberi nama “Ciung Wanara”. Sedangkan telur ayam kemudian ditetaskan dan jadilah “Hayum aduan”. Kemudian yang tak kalah hebatnya adalah peranan sang ayam yang dijadikan taruhan. Konon kabar dari sang juru pantun, ayam Ciung Wanara tersebut tidak terkalahkan, berkat ayam adu ini kemudian Ciung Wanara dapat menerima tahta galuh.

Dalam Babad Pajajaran yang menjadi pengasuh Ciung Wanara adalah Ki Anjali, pemilik panday besi - pengolah besi untuk berbagai keperluan perkakas dari besi, termasuk senjata tajam. Ki Anjali disebut-sebut juga sebagai orang yang memperkenalkan Ciung Wanara kepada lingkungan Kerajaan Galuh.

Ada juga sumber lain yang mengabarkan, bahwa Ki Anjali adalah partisan Galuh pendukung Ki Balangantrang, bertugas membina masa rakyat di panday besinya untuk melakukan pemberontakan terhadap Sundapura.

Selain eksistensi para tokoh diatas disebutkan peranan Banga atau Haryang Banga yang umurnya dianggap lebih tua dari Ciung Wanara. Mungkin cerita ini agak “kasilih” dengan cerita Lutung Kasarung, karena dalam cerita ini ada juga disebut eksistensi wanara (kera). Sekalipun demikian, memang ada persamaan ending dari ceritanya, yakni Ciung Wanara atau Manarah menjadi raja di Galuh menggantikan Tamperan.

Sebenarnya kita tidak dapat menyalahkan para petutur lisan ini, yang sering hiperbol atau warokti dalam menuturkan kisahnya, bahkan membiarkan hayalannya (cittanung maya) jauh membumbung meninggalkan kesejatian sejarah. Selain diatas, para petutur biasa juga tidak mengenal adanya batas logika, kita masih perlu menafsirkan hingga sesak dengan pemaknaan.

Apapun masalahnya, patut juga diberikan apresiasi, jika saja tidak ada peranan para petutur lisan, seperti juru pantun, maka kitapun menjadi kehilangan jejak sejarah, bakhan bisa jadi kita tidak memiliki bahan dasar untuk menemukan sejarah.


Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Balangantrang dikenal juga dengan nama Bimaraksa, dalam cerita rakyat dikenal dalam kisah Ciung Wanara sebagai pasangan nini aki Balangantrang yang menemukan bayi Ciung Wanara, bayi itu ia beri nama Ciung Wanara.

Tersebutlah sepasang aki dan nini Balangantrang yang tinggal di Geger Sunten, suatu wilayah yang tidak memiliki tetangga. Karena kesepiannya si nini merindukan kehadiran anak yang konon tak kunjung tiba. Hingga pada suatu malam, si nini bermimpi kejatuhan bulan, si aki pun menafsirkan bahwa sebentar lagi ia akan mendapat rejeki.

Karena profesi aki Balangantrang sebagai penangkap ikan, pada malam itu juga aki membawa “kecrik” ke kali Cintanduy. Namun tanpa diduga duga, tiba-tiba melihat ranjang bayi yang gemerlap di tepi sungai, "lir ibarat emasng singaling". ia pun lantas mengambil dan memeriksanya. Betapa terkejutnya ketika dibuka nampak sesosok bayi mungil yang masih hidup. Disebelah bayi tergeletak sebutir telor ayam.

Konon menurut yang empunya cerita, bayi itu lantas di “rorok” dengan penuh kasih hingga dewasa, sedangkan telur ayamnya di tetaskan hingga menjadi seekor ayam jantan. Konon pula, kelak ayam itu menjadi ayam aduan yang tangguh dan berhasil mempersembahkan mahkota.

Aki Balangantrang kemudian mendapat kabar, bayi yang ia pelihara itu ternyata anak raja. Aki dan Nini pun kemudian membekali pengetahuan secukupnya. Mereka pun menceritakan kepada Ciung Wanara, bahwa mereka sebenarnya bukan orang tuanya. Dan orang tua Ciung Wanara adalah seorang raja. Cerita selanjutnya dikisahkan, bagaimana Ciung Wanara memenangkan taruhan adu ayam, hingga kemudian ia menjadi raja di Galuh.

Dalam cerita lisan ini memang tidak disebutkan adanya pemisahan batas kekuasaan Manarah dengan Haryang Banga sebagaimana yang dikenal dalam catatan sejarah resmi. Namun ada persamaan mengenai batas wilayahkekuasaanya, yakni di batasi Kali Citarum.


Manarah dan Balangantrang


Dalam catatan sejarah, Ciung Wanara dikenal dengan nama Manarah, putra Permana Dikusumah – seorang raja “nu minandita” dari Pohaci Naganingrum, putri Balangantrang. Permana Dikusumah lebih dikenal karena sikapnya yang minandita. Permana Dikusumah lebih senang bertapa ketimbang mengurus tahtanya. Dari sifatnya yang alim, Permana Dikusumah diberi nama Bagawan Sijalajala atau Ki Ajar Resi. Dengan demikian Manarah adalah cucu dari Bimaraksa.

Tentang Permana Dikusumah, biasanya cerita lisan sering “pacaruk” dengan cerita Mundiinglaya Dikusumah (Surawisesa), mungkin cerita ini terbaur karena memliki nama yang sama, yakni Dikusumah, agak sulit dibedakan. Sehingga epos Sunda (Sundapura) dengan Galuh menjadi cair.

Permana Dikusumah sebenarnya bukan keturunan Mandiminyak yang mendapat amanah menggantikan Wretikandayun, ayahnya. Ia anak Patih Wijaya Kusumah, Putra Prbasora. Memang sepintas menjadi aneh dan menimbulkan pertanyaan serius bagi para akhli sejarah : ”kenapa Sanjaya memilih Permana Dikusumah sebagai pemegang pemerintahan di Galuh dan Sanjaya malah tinggal di ibukota sunda?.

Para akhli sejarah mencari jawaban ini dari Carita Parhyangan. Konon kabar setelah mengalahkan Purbasora, kemudian ia mengutus patih menemui Sempakwaja. Ia meminta agar Demuwan (adik Purbasora dan anak Sempakwaja) direstui untuk memegang pemerintahan di Galuh.

Karena Sanjaya tidak memiliki ambisi untuk tinggal di Galuh, Ia berkeinginan untuk menyudahi perang saudara. Sanjaya pun meminta restu ini karena menghormati orang-orang tua di Galuh sesuai dengan pesan Sena (ayah Sanjaya).

Sempakwaja patut mencurigai permintaan ini dan berpikir : permintaan ini hanya akan menjebak Demunawan untuk kemudian dibinasakan. Ia pun tidak rela anaknya menjadi bawahan sundapura pembunuh Purbasora. Sedang ia pun masih teringat perjuangan Wretikandayun, ayahnya ketika membebaskan Galuh dari Sundapura. Iapun tidak lantas menolak permintaan itu dan ia pun tidak lekas mengabulkan permintaan restu untuk mengakui Sanjaya sebagai penguasa Galuh. Namun Sempakwaja saja, bahwa : Sanjaya adalah pewaris sah kerajaan Galuh.

Untuk menjawab semua permintaan Sanjaya, Sempakwaja memberikan syarat dan tantangan : jika Sanjaya ingin direstui sebagai penguasa Galuh, maka Sanjaya harus membuktikan keunggulannya dengan cara menaklukan raja-raja di jawa tengah dan disekitar Galuh. Karena galuh bukan kerajaan kecil. Galuh harus dipimpin orang yang kuat. Syarat itupun sebenarnya ada maksudnya. Sempakwaja berniat menghadapkan Senjaya dengan jago andalannya, Pandawa, Wulan dan Tumanggul, masing-masing raja Kuningan, kajaron dan Kalanggara.

Sempakwaja juga meminta janji Sanjaya, jika Sanjaya dapat menaklukan tiga serangkai tersebut, maka Sempakwaja akan mengikuti apa yang dimintakan Sanjaya, namun jika sebaliknya maka Sanjaya harus mengikuti kemauan Sempakwaja. Kisah ini diceritakan didalam Carita Parhyangan, sebagai berikut :

Barang nepi ka hareupeun Dangiang Guru, carek Dangiang Guru: "Rahiang Sanjaya! Lamun kaereh ku sia Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan, aing bakal nurut kana sagala ucapan sia. Da beunang ku aing kabawah. Turut kana ucapan aing. Da aing wenang ngelehkeun, hanteu kasoran. Da aing anak dewata."

Sebagai orang yang mentaati orang tua dan leber elmu jeung wawanena, tantangan ini pun disambut gembira oleh Sanjaya, Sanjaya pun menyiapkan pasukannya. Kisah peperangan ini diabadikan didalam Naskah Wangsakerta (Naskah Kretabumi), isinya mengabarkan : Ketika belum menjadi raja Galuh Sanjaya dikalahkan oleh Pandawa raja Kuningan. Kelak setelah menguasai jawa kulwan (Sunda-Galuh) dan Medang (jawa madha) dengan pasukan yang besar, Sanjaya dapat terus memenangkan peperangan.

Kekalahan Sanjaya oleh tiga serangkai tersebut mengakibatkan ia harus memenuhi janjinya untuk tunduk pada keinginan Sempakwaja. Kemudian Sempakwaja menunjuk Permana Dikusumah untuk memegang pemerintahan di Galuh, dan Sanjaya pun menyetujuinya.

Ending yang sama namun disajikan dengan alasan yang berbeda, dikemukakan dalam Naskah Wangsakerta, isinya mengabarkan : Sanjaya menjadi Raja Galuh Pakuan (sunda dan galuh) tetapi kerabatnya, yakni Sempakwaja dan Demuwan merasa tidak senang melihat Sanjaya menjadi penguasa sekitar Galuh, terutama melihat Galuh berada dibawah Kerajaan Sunda. Karena itu ia tinggal di ibukota sunda. Oleh karenanya Galuh dikuasakan kepada Prabu Permana Dikusumah sebagai raja bawahan sunda. Untuk mengontrol kekuasaan Permana dikusumah, Sanjaya melantik Tamperan atau Barmawijaya, putranya dari sunda sebagai patih duta Sunda. Tamperan juga diberi kekuasaan untuk memimpin Garnisun sunda yang ditempatkan di Purasaba Galuh.


Peristiwa Dewi Pangrenyep

Telah diuraikan diatas, Permana Dikusumah sangat terkenal dengan kepanditaannya, iapun pernah menjadi raja dibawah kekuasaan Mandiminyak. Bahkan julukan resi ia terima sejak masih muda.

Permana Dikusumah juga menantu Bimaraksa. Dari Naganingrum kemudian ia dikaruni anak yang diberi nama Surotama atau Manarah. Ada juga petutur yang memberinya nama Ciung Manarah, sedangkan dalam tradisi lisan (pantun), Manarah dikenall dengan sebutan Ciung Wanara. Ia sangat disayang, kakeknya, Bimaraksa. Dari Manarah terkumpul darah keturunan Wretikendayun tulen, yakni Sempakwaja dan Jantaka.

Pada periode kepemimpinan di Galuh, Permana Dikusumah di jodohkan dengan Dewi Pangrenyep, putri Anggada, patih Sundapura. Umurnya jauh lebih muda dari Permana Dikusumah. Konon kabar karena beda umur ini dan hobinya Permana Dikusumah menyebabkan Pangrenyep menjadi kesepian. Dalam cerita lain, seringnya Permana Dikusumah pergi bertapa disebabkan keengganannya mengabdi kepada Sanjaya, pembunuh kakeknya. Namun semua itu ia lakukan sesuai permintaan Sempakwaja, kakek buyutnya.

Selama ditinggalkan bertapa Pangrenyep sering bertemu dengan Tamperan, patih yang masih muda dan gagah perkasa, terjadilah perselingkuhan. Hal inipun tidak diketahui Sanjaya, mengingat Sanjaya masih terus melakukan ekspansi kenegara lain. Hubungan gelap Tamperan kemudian melahirkan seorang anak, yang diberi nama Banga. Permana beranggapan, Manarah tidak akan pernah menjadi Raja Galuh, karena siapapun yang dilahirkan Pangrenyep, secara resmi masih istri Permana, dinisacayakan menjadi raja di Galuh.

Sampai cerita ini, banyak sejarah nu pagaliwota, paling tidak penafsiran Manarah satu ayah dengan Banga, dan menganggap Permana Dikusumah telah meninggal, sehingga perseteruan Manarah dengan Banga dianggap perebutan tahta adik dan kakak.

Peristiwa memalukan ini kemudian diketahui Sanjaya. Untuk menutup aib Sanjaya menyingkirkan Tamperan ke Pakuan. Setelah penaklukan Jawa Madha dan Jawa Pawathan, Sanjaya memutuskan untuk tinggal di Galuh. Namun tidak berlansung lama, karena pada suatu ketika Sena meminta sanjaya menggantikannya, menjadi raja di Mataram.

Permintaan ayahnya tersebut menyebabkan Senjaya sangat sulit untuk menentukan pengganti yang dapat mejadi wakilnya di Galuh. Sementara itu, Permana Dikusumah pun telah berketetapan untuk menjadi pertapa dan meninggalkan kesibukan dunia. Pada akhirnya Senjaya menunjukan Tamperan sebagai penguasa Galuh.


Balangantrang Manggung Deui

Sebenarnya cinta terlarang tamperan dengan Pangrenyep tidak akan menumpahkan darah jika Tamperan tidak membunuh Permana Dikusumah dipertapannya. Pembunuhan terjadi ketika Tamperan menggantikan posisi Sanjaya di Galuh, namun ia belum memiliki permaisuri. Ia sebenarnya memilih pangrenyep untuk menjadi istrinya. Sayangnya Pangrenyep masih istri resmi dari Permana Dikusumah, hingga iapun perlu terlebih dahulu melenyapkan Permana Dikusumah.

Setelah suruhannya berhasil membunuh Permana Dikusumah kemudian iapun sekaligus menikahi Pangranyep dan Naganingrum. Iapun memperlakukan Manarah seperti anaknya sendiri. Mungkin peristiwa inilah yang ditafsirkan Manarah dan Banga adik kakak satu ayah. Bahkan dalam cerita rakyat nama ayah keduanya disebut-sebut Prabu Brama Wijayakusumah, hampir sama dengan nama Tamperan Barmawijaya.

Skandal yang sebelumnya menjadi rahasia Tamperan pada akhirnya tercium luas di lingkungan Galuh, terdengar pula oleh Bimaraksa di Geger Sunten, pada waktu itu sedang aktif menghimpun kekuatan dengan nama Aki Balangntrang. Ia pun mendapat dukungan dari raja-raja sekitar Galuh yang berhasil ditaklukan Sanjaya. Tugas ini tidak begitu sulit dilakukan, karena sebelumnya ia dikenal sebagai senapati dan Patih Galuh yang tangguh, serta masih terhitung cucu dari Wretikandayun.


Geger Sunten

Untuk mematangkan soliditas perlawanan, Balangantrang merasa perlu menarik Manarah dipihaknya. Memang agak sulit, karena Tamperan mengakui dan memperlakukan Manarah sebagai anaknya sendiri, berakibat Manarah agak sulit didekati. Namun bagi gerakan Balangantrang, Manarah adalah simbol perlawanan Galuh, karena ia anak Permana Dikusumah yang dibunuh Tamperan. Pada akhirnya Manarah dapat diyakinkan, hingga iapun sering secara diam-diam menemui kakeknya di Geger Sunten.

Penyerbuan Manarah dan pasukan Balangantrang untuk menguasai Galuh diatur dengan seksama. Bagi mereka masalah penguasaan teritorial kota Galuh tidak sulit dilakukan, mengingat kesehariannya Ia hidup dilingkungan Galuh. Balangantrang merencanakan untuk melakukan penyerbuan pada siang hari, dengan cara langsung menguasai istana, sedangkan Manarah melakukannya ditempat sabung ayam, ia akan terlibat sebagai peserta sabung ayam. Biasanya pada acara itu di hadiri pada saat para pembesar istana (termasuk Tamperan). Sehingga dengan taktik ini Balangantrang akan sangat mudah menguasai istana. Namun dalam sejarah lisan, masyarakat Galuh lebih banyak menceritakan kisah sabung ayamnya, ketimbang penguasaan keraton oleh pasukan Balangantrang.

Upaya merebut tahta Galuh itu dilakukan pada tahun 723, dan berhasil dengan gemilang. Jika Sanjaya dahulu merebut tahta Galuh dari Purbasora dilakukan pada malam hari, namun Manarah dengan Balangantrang melakukannya pada siang hari.

Persitiwa ini diceritakan didalam Carita Parahyangan, cuplikannya sebagai berikut :

Sang manarah males pati. Rahiang Tamperan ditangkep ku anakna, ku Sang Manarah. Dipanjara beusi Rahiang Tamperan teh. Rahiang Banga datang bari ceurik, sarta mawa sangu kana panjara beusi tea.

Kanyahoan ku Sang Manarah, tuluy gelut jeung Rahiang Banga. Keuna beungeutna Rahiang Banga ku Sang Manarah. Ti dinya Sang Manarah ngadeg ratu di Jawa, mangrupa persembahan.

Nurutkeun carita Jawa, Rahiang Tamperan lilana ngadeg raja tujuh taun, lantaran polahna resep ngarusak nu tapa, mana teu lana nyekel kakawasaanana oge. Sang Manarah, lilana jadi ratu dalapanpuluh taun, lantaran tabeatna hade.


Perjanjian Galuh

Sanjaya mendengar berita kematian anaknya, iapun dengan pasukan besarnya menyerang purasaba Galuh. Tapi Manarah telah mempersiapkan diri menyongsong serangan,dibantu oleh sisa-sisa pasukan Indraprahasta yang kerajaannya telah dibumi hanguskan Sanjaya, disampng itu ia pun dibantu raja-raja di daerah Kuningan yang pernah ditaklukan Sanjaya. Pengulangan perang saudara tidak berlangsung lama karena dapat dilerai oleh Resi Demuwan. yang memaksa mereka untuk berunding.

Dari perundingan kemudian disepakati : menyudahi permusuhan ; tidak boleh saling menyerang ; penyelesaian masalah harus dengan musyawarah ; hubungan kekerabatan tidak boleh terputus ; harus saling menghormati hak ahli waris yang syah, yakni negeri sunda dari daerah Citarum ke barat dipimpin oleh Banga sedangkan Negeri Galuh dari Sungai Citarum ke timur dipimpin oleh Manarah.

Memang patut disayangkan, bekas kerajaan Tarumanagara yang berhasil disatukan oleh Sanjaya (723 – 739) terpaksa harus terpisah kembali. Namun ketika jaman Pajajaran (Kawali dan Pakuan) wilayah ini untuk yang kedua kalinya dapat dipersatukan. Dalama babak berikutnya Galuh diserahkan kepada Manarah dengan gelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana, sedangkan Sunda diserahkan kepada Banga dengan gelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Aji Mulya. Perundingan itupun menetapkan status Banga menjadi raja bawahan Galuh. Namun Banga menerima keputusan ini, karena ia merasa masih bisa tetap hidup karena kebaikan Manarah.

Sama dengan tradisi raja-raja dahulu yang kerap dilakukan, adalah mengikat pertalian saudara melalui perkawinan. Untuk lebih mempererat persaudaraan dan menyatukan kembali keturunan Wretikandayun, keduanya dijodohkan dengan cicit Demunawan. Manarah dijodohkan dengan Kancanawangi dan Banga dengan Kancanasari, adik Kancanawangi. Dari perkawinan dengan Kancanasari, manarah mempunyai beberapa orang putri, iapun kemudian diganti oleh menantunya, Manisri, suami dari Puspasari. Karena tidak diketahui asal-usulnya, maka didalam Cerita Lutung Kasarung, Manisri dianggap sebagai Putra Sunan Ambu, sedangkan Puspasari bernama Purbasari.

Rupanya keturunan Manarah sangat sulit memperoleh anak laki-laki dan keturunan, karena ketika Linggabumi cicit dari Manarah, terpaksa menyerahkan tampuk kekuasaanya kepada Rakeryan Wuwus, raja sunda keturunan Banga, suami adiknya

Lainnya halnya dengan Banga, ia berhasil menaklukan raja-raja disekitar Citarum, untuk kemudian iapun melepaskan dari Galuh dan menjadi negara merdeka. Hingga Sunda menjadi sederajat dengan Galuh. Iapun dikarunia keturunan yang tidak terputus, bahkan cicit Banga , yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon, yang menjadi Raja Sunda ke-8. Diserahi menjadi raja Galuh, karena Lingga Bumi, keturunan Manarah tidak mempunyai keturunan.



Penutup


Setelah perjanjian dilaksanakan, dan Balangantrang berhasil mengantar Manarah, cucunya menjadi raja di Galuh, Balangantrang kembali ke Geger Sunten. Tentunya sekarang tidak lagi perlu bersembunyi seperti ketika ia bergerilya. Tinggalah Manarah yang dibantu anak-anak muda, melanjutkan tugasnya untuk mengemban hidup dan kehidupan. Aki Balangantrang masih hidup dengan para juru pantun, sekalipun raganya sudah tak lagi ada.

Bangus lampahna Ki Balangantrang, mipir pasir nataratas jalan kahuma, nyukcruk cai reretan jalan nu tas kaliwat, pancen jadi pangbagea, kabalarea nu mapag jeung kabungah hirup.

Cag nepi kadieu, Sampeurun keur engke jaga

Baca Juga :

1 komentar:

  1. Hatur nuhun pisan postinganana Kang, janten tambih euyeub informasi pakait Kerajaan Sunda sareng aktor anu terlibat dina ieu riwayat.

    BalasHapus